BERAU TERKINI – Setelah sukses menghadirkan layanan hemodialisa (cuci darah) sejak 2024, RSUD dr Abdul Rivai kembali bersiap membuka layanan baru berupa Cathlab (Catheterization Laboratory) untuk penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Langkah ini menjadi bagian dari peningkatan layanan kesehatan yang terus dilakukan rumah sakit rujukan utama di Kabupaten Berau tersebut dalam empat tahun terakhir.

Dari yang sebelumnya memiliki keterbatasan layanan spesialis, kini RSUD dr Abdul Rivai telah mampu menghadirkan berbagai layanan unggulan, sehingga pasien tidak lagi harus dirujuk ke luar daerah.

Sejumlah layanan spesialis yang kini tersedia antara lain spesialis saraf, jantung, gigi anak, bedah mulut, hingga gizi klinik.

Selain itu, rumah sakit juga menambah jumlah dokter spesialis untuk memenuhi empat layanan dasar dan tiga layanan penunjang.

Direktur RSUD dr Abdul Rivai, Jusram, mengatakan, pengembangan layanan Cathlab dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam penanganan penyakit jantung yang membutuhkan tindakan cepat dan tepat.

“Sebagai bagian dari persiapan, dokter spesialis jantung RSUD dr Abdul Rivai, Zulkarnain Muin, saat ini tengah menjalani program Fellowship Kardiologi Intervensi di Rizhao International Heart Hospital, China,” katanya, Sabtu (25/4/2026).

Dihubungi terpisah, Zulkarnain Muin mengatakan, program tersebut dijalaninya selama 12 bulan.

Program itu menjadi salah satu syarat penting agar RSUD dr Abdul Rivai dapat memperoleh bantuan fasilitas alat Cathlab dari pemerintah pusat.

Salah satu ketentuannya adalah ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten di bidang intervensi jantung.

“Selama mengikuti program fellowship ini, saya dilatih melakukan tindakan kateterisasi jantung untuk melihat struktur dan kelainan pembuluh darah, serta teknik pemasangan ring jantung jika ditemukan sumbatan,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.

Menurut putra dari pasangan Abdul Muin Kalu (Alm) dan Nurmin Baso Madandan ini, selama menjalani pendidikan di China, dirinya menghadapi berbagai tantangan adaptasi, mulai dari bahasa, serta cuaca yang saat ini masih cukup dingin berkisar 10-18 derajat.

Tak hanya itu, perbedaan sistem transportasi dan makanan juga jadi kendala tersendiri.

Namun, hal tersebut tidak menghambat proses belajar karena para mentor dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

“Sedikit demi sedikit kami juga mulai belajar bahasa China sederhana untuk memahami instruksi selama praktik di rumah sakit,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Zulkarnain turut menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Berau, manajemen RSUD dr Abdul Rivai, Kementerian Kesehatan, serta LPDP dari Kementerian Keuangan yang telah mendukung program pendidikan tersebut.

Ia berharap, setelah menyelesaikan fellowship dan didukung fasilitas Cathlab di RSUD dr Abdul Rivai, layanan kateterisasi jantung dapat segera dioperasikan dan diakses masyarakat Berau, termasuk melalui skema pembiayaan BPJS Kesehatan.

“Semoga ilmu yang saya dapatkan bisa memberikan manfaat besar bagi masyarakat Berau, khususnya dalam penanganan penyakit jantung,” pungkasnya. (*)