BERAU TERKINI — Rumah sakit baru di Tanjung Redeb yang akan segera beroperasi masih mengalami kekurangan tenaga kesehatan.

Guna mengatasi kendala ini, pihak pengelola berencana mengambil tenaga medis dari RSUD Abdul Rivai.

Konsultan Teknis RSUD Tanjung Redeb, Syahrir Pasinringi, mengatakan, langkah ini menjadi solusi jangka pendek yang diambil.

Selain dari RSUD Abdul Rivai, pemerintah provinsi juga akan memberikan bantuan berupa penempatan dua dokter spesialis.

Insentif bagi kedua dokter spesialis tersebut akan sepenuhnya ditanggung oleh pihak provinsi.

Konsultan Teknis RSUD Tanjung Redeb, Syahrir Pasinringi.
Konsultan Teknis RSUD Tanjung Redeb, Syahrir Pasinringi.

Setiap dokter tersebut nantinya akan menerima tambahan penghasilan sebesar Rp23 juta per bulan selama masa tugas.

“Saya sebagai tenaga ahli gubernur bidang SDM dan Kesra sudah akan dibantu oleh provinsi untuk diberikan 2 dokter spesialis,” jelas Syahrir.

Pihak manajemen terus mengusahakan penambahan tenaga medis meskipun saat ini masih mendatangkan dokter dari luar daerah.

Pemerintah berupaya memperjuangkan agar jumlah dokter spesialis bisa bertambah menjadi lima hingga tujuh orang ke depan.

Syahrir menekankan, perjuangan untuk memenuhi standar SDM rumah sakit akan terus dilakukan secara bertahap.

“Sambil kita berusaha, ini berusaha berjuang supaya bisa dapat di masa depan apakah ditambah jadi 5, jadi 7,” ujarnya.

Proses rekrutmen tenaga kesehatan lainnya tetap berjalan namun harus mengikuti aturan main yang berlaku saat ini. 

Hal ini dikarenakan pemerintah daerah sedang dalam masa efisiensi anggaran di berbagai sektor pelayanan publik. 

Maka dari itu, pemanfaatan nakes dari puskesmas atau rumah sakit yang sudah beroperasi menjadi pilihan utama.

Langkah ini dipastikan tidak akan mengurangi kualitas layanan pada fasilitas kesehatan asal yang diambil tenaganya.

Seleksi ketat tetap diberlakukan guna membangun budaya organisasi yang mampu memberikan layanan kesehatan terbaik bagi masyarakat.

Pengelola berkomitmen agar rumah sakit baru ini memiliki standar pelayanan yang unggul dan ramah kepada pasien.

“Tapi kita seleksi dengan baik yang betul-betul, karena kita ingin membangun namanya budaya organisasi yang memberikan layanan dengan bagus,” tutup Syahrir. (*)