BERAU TERKINI – Direktur RSUD dr Abdul Rivai, Jusram, secara terbuka mengakui masih ada persoalan pelayanan di rumah sakit yang dipimpinnya.
Menurutnya, berbagai kritik dan keluhan dari masyarakat menjadi bahan evaluasi untuk terus melakukan pembenahan.
“Kalau bicara masalah, ya tetap ada masalah di rumah sakit. Kami akui itu,” ujar Jusram, Selasa (28/4/2026).
Ia menyampaikan, manajemen RSUD Abdul Rivai tidak menutup diri terhadap kritik dari masyarakat.
Sebaliknya, masukan tersebut dianggap penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan membangun kembali kepercayaan publik terhadap rumah sakit.

Menurut Jusram, dari sisi sumber daya manusia (SDM), tenaga kesehatan di RSUD Abdul Rivai dinilai cukup profesional dalam menjalankan tugas medis.
Namun, ia mengakui masih ada kekurangan dalam cara melayani pasien, terutama soal komunikasi dan keramahan.
“Mungkin kekurangan kami di situ, cara melayani pasien. Cara berkomunikasi, cara menyambut pasien, itu yang perlu diperbaiki,” katanya.
Ia bahkan mencontohkan, pelayanan di dunia perhotelan yang dinilai lebih baik dalam hal komunikasi dan penyambutan tamu.
Hal tersebut, menurutnya, menjadi salah satu gambaran pelayanan yang ingin diterapkan di lingkungan rumah sakit.
“Kalau di hotel cara mereka menyambut dan melayani itu komunikasinya bagus. Nah, itu yang sebenarnya masih kurang di kami,” jelasnya.
Untuk memperbaiki hal tersebut, Jusram mengaku terus mengingatkan seluruh jajaran manajemen dan tenaga kesehatan dalam setiap briefing maupun rapat internal agar mengedepankan pelayanan yang ramah kepada pasien.
“Setiap rapat saya selalu sampaikan ke semua manajemen kalau kekurangan kita ada di situ,” ucapnya.
Selain itu, pihak rumah sakit juga berupaya membangun karakter pelayanan bagi tenaga kesehatan melalui berbagai pembinaan dan pelatihan.
Bagi Jusram, tidak semua tenaga kesehatan memiliki karakter yang cocok untuk berhadapan langsung dengan pasien.
“Kita harus memetakan mana nakes yang siap melayani orang, mana yang tidak siap melayani orang,” katanya.
Ia menambahkan, tenaga kesehatan yang dinilai kurang cocok menangani pelayanan langsung kepada pasien, nantinya dapat ditempatkan di bagian lain yang tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat.
“Kalau memang karakternya tidak siap melayani orang, ya kita tempatkan di bagian lain. Yang jelas, kami sangat komitmen ingin selalu melakukan perbaikan terhadap kekurangan kami di rumah sakit,” pungkasnya. (*)

