BERAU TERKINI – Rencana operasional RSUD Tanjung Redeb pada Mei mendatang kembali ditegaskan dengan pendekatan realistis.
Rumah sakit yang digadang-gadang menjadi tulang punggung layanan kesehatan di Berau ini dinilai tak harus menunggu kesiapan 100 persen untuk mulai beroperasi.
Tenaga Ahli dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Syahrir A Pasinringi, menyatakan, membuka rumah sakit baru memang tidak bisa menunggu kondisi ideal sepenuhnya.
Menurutnya, langkah paling penting saat ini adalah keberanian untuk memulai, namun dengan catatan dukungan anggaran harus benar-benar disepakati bersama.

“Kalau kita mau berpikir ideal 100 persen, mungkin tidak akan pernah dibuka. Tapi kita harus mulai,” ujarnya.
Ia menegaskan, kunci utama agar RSUD Tanjung Redeb bisa beroperasi terletak pada komitmen legislatif dan eksekutif dalam mengalokasikan anggaran.
Melalui anggaran murni maupun perubahan, dukungan finansial disebut menjadi syarat mutlak.
“Syaratnya, Bapak dan Ibu yang ada di ruangan ini, DPRD dan pemerintah daerah, harus sepakat mengalokasikan anggaran, termasuk nanti di anggaran perubahan,” tegasnya.
Syahrir juga mengingatkan, rumah sakit baru tidak bisa langsung mandiri secara finansial, terutama karena belum bisa langsung bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Oleh karena itu, suntikan dana dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk menopang operasional di tahap awal.
Dengan kondisi tersebut, ia mendorong agar semua pihak tidak terjebak pada kesempurnaan, melainkan fokus pada pemenuhan syarat dasar agar layanan kesehatan bisa segera dirasakan masyarakat.
“Keputusan ada di tangan DPRD dan Pemkab Berau. Jika kesepakatan anggaran dapat segera dicapai, maka target operasional RSUD Tanjung Redeb pada Mei mendatang bukan hal yang mustahil, meski dilakukan secara bertahap,” tandasnya. (*)

