BERAU TERKINI – Sebanyak empat calon jemaah haji asal Balikpapan, Kaltim harus bersabar karena harus absen untuk beribadah ke Tanah Suci pada musim haji tahun ini.

Sebab, keempat calhaj tersebut memiliki kondisi fisik yang tak memungkinkan untuk bisa menjalankan ibadah haji selama satu bulan lebih.

Keputusan ini diambil secara bulat setelah hasil pengecekan kesehatan diterima oleh penyelenggara haji di Balikpapan.

Kepala Kantor Kementerian Haji Kota Balikpapan, Suharto Baijuri menyatakan bila keempat jemaah tersebut telah mengikuti proses persiapan yang digelar oleh pemerintah.

Namun kondisi fisik yang tak memadai, memaksa pihak penyelenggara untuk menunda keberangkatan keempat calhaj tersebut.

“Ini berkaitan dengan kondisi fisiknya,” kata Suharto, seperti yang dalam laporan Pranala.

Ilustrasi Jemaah Haji.
Ilustrasi Jemaah Haji.

Penundaan ini bukan sekadar keputusan administratif.

Dalam beberapa tahun terakhir, faktor kesehatan menjadi salah satu penyebab utama tertundanya keberangkatan jemaah, seiring pengetatan standar medis dari pemerintah Arab Saudi.

Di sisi lain, dinamika keberangkatan tetap berjalan.

Empat kursi yang kosong langsung diisi oleh jemaah cadangan dari Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, menandakan tingginya antrean calon jemaah yang siap berangkat.

Tahun ini, Balikpapan memberangkatkan 675 jemaah, terdiri dari 293 laki-laki dan 382 perempuan. Mereka terbagi dalam empat kelompok terbang (kloter) yakni kloter 2, 13, 15, dan 17.

Embarkasi Balikpapan sendiri menjadi salah satu simpul penting keberangkatan haji di kawasan timur Indonesia, dengan total 17 kloter yang berasal dari Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, hingga Kalimantan Utara.

Rentang usia jemaah juga menjadi perhatian.

Jemaah tertua berusia 80 tahun, sementara yang termuda 18 tahun—berangkat menggantikan orang tuanya yang telah meninggal.

Perbedaan usia ini turut memengaruhi kesiapan fisik dan kebutuhan pendampingan selama ibadah.

Selain kesehatan, aspek kesiapan teknis juga menjadi sorotan.

Jemaah kini dituntut memahami penggunaan Kartu Nusuk sebagai akses layanan ibadah di Arab Saudi, termasuk menyimpan data penting secara digital.