BERAU TERKINI — Implementasi perdana program Biru Fund yang diinisiasi oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) kini mulai dijalankan di Kabupaten Berau. 

Langkah ini ditandai dengan revitalisasi hatchery atau fasilitas pembenihan udang windu di SMKN 3 Tanjung Batu sebagai upaya strategis memperkuat akses petambak terhadap benih berkualitas, sekaligus mendorong praktik budi daya yang lebih berkelanjutan.

Inisiatif besar ini hadir untuk menjawab tantangan utama sektor pertambakan di Bumi Batiwakkal, yakni keterbatasan pasokan benih yang selama ini sangat bergantung pada kiriman dari daerah luar seperti Surabaya dan Tarakan. 

Ketergantungan tersebut kerap memicu ketidakpastian kualitas serta risiko kematian benih yang tinggi selama masa pengiriman. 

Dengan hadirnya hatchery lokal, para petambak kini dapat memperoleh benur dengan kondisi yang lebih segar, jumlah yang akurat, serta kualitas yang terjaga sesuai kebutuhan produksi mereka.

Selain memperkuat sisi produksi, program Biru Fund juga memperkenalkan skema pembiayaan yang jauh lebih inklusif bagi masyarakat. 

Melalui skema ini, petambak dapat mengakses modal dengan bunga 0 persen serta masa tenggang pembayaran hingga 10 bulan. 

Menariknya, mekanisme pengembalian dana dilakukan berdasarkan persentase keuntungan hasil panen.

Sehingga, sangat membantu mengurangi tekanan finansial petambak pada awal siklus budidaya.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan NGO ini. 

Ia menilai langkah tersebut sebagai terobosan nyata dalam penyediaan benur unggul serta transformasi teknologi budidaya air payau. 

“Ini bentuk inovasi dan upaya kreatif dari pemerintah dan para pihak untuk menjawab kebutuhan mendasar masyarakat petambak yang selama ini kesulitan mendapatkan benih udang windu berkualitas di Berau,” ujar Majid.

Menurut Majid, program ini selaras dengan visi Bupati Berau dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat perikanan. 

Proses pembenihan yang dilakukan SMKN 3 Tanjung Batu. (Dok. SMKN 3 Tanjung Batu)
Proses pembenihan yang dilakukan SMKN 3 Tanjung Batu. (Dok. SMKN 3 Tanjung Batu)

Ia pun berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi yang terus memberikan dukungan penuh. 

Majid berharap model bisnis berkelanjutan ini dapat menginspirasi pihak lain untuk mereplikasi langkah serupa demi masa depan masyarakat pesisir melalui program inovasi seperti KAWAN BAIK, SANG RATU, dan SIPURI. 

“Ini model yang dapat kita replikasi. Bisnis berkelanjutan di sektor perikanan yang dapat berkontribusi terhadap konservasi dan peningkatan mata pencaharian masyarakat,” tegasnya.

Dari sisi pendidikan, Guru Agribisnis Perikanan SMKN 3 Tanjung Batu, Catur Sketsa Suroso, menjelaskan, integrasi antara dunia pendidikan dan industri merupakan nilai utama dari program ini.

Fasilitas hatchery tersebut dikembangkan sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik melalui model teaching factory.

Siswa terlibat langsung dalam proses produksi hingga pengelolaan usaha bersama mitra swasta PT Tri Karta Pratama (PT TKP).

“Hatchery ini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai sarana praktik bagi siswa agar memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri,” kata Catur.

“Kami juga bekerja sama dengan pihak swasta untuk memastikan standar operasional dan penyusunan modul pembelajaran berjalan optimal,” imbuhnya.

Manfaat nyata kehadiran fasilitas lokal ini dirasakan langsung oleh petambak di lapangan.

Jumardi, salah satu petambak di Kampung Suaran, mengakui kepastian pasokan benih kini bukan lagi menjadi risiko yang menghantuinya. 

Fasilitas pembenihan bibit udang windu yang dikelola SMKN 3 Tanjung Batu. (Dok. SMKN 3 Tanjung Batu)
Fasilitas pembenihan bibit udang windu yang dikelola SMKN 3 Tanjung Batu. (Dok. SMKN 3 Tanjung Batu)

“Sering kali benur yang datang tidak sesuai jumlah atau menurun karena perjalanan jauh. Sekarang kami bisa mendapatkan benur dengan jumlah yang lebih pasti dan mudah, karena jarak lebih dekat sehingga mengurangi risiko kematian benur sampai di tambak,” ungkapnya.

Secara global, Biru Fund merupakan bagian dari inisiasi Koralestari yang didukung oleh Global Fund for Coral Reefs (GFCR). 

Program ini mendorong pengembangan ekonomi biru yang menyatukan kesejahteraan masyarakat dengan perlindungan ekosistem pesisir. 

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menegaskan, pembiayaan inovatif ini dirancang untuk menciptakan model usaha yang menguntungkan secara ekonomi sekaligus menjaga kelestarian mangrove dan terumbu karang.

“Ini menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan sektor perikanan di Kabupaten Berau,” kata Ilman.

Ke depan, model kemitraan ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah pesisir lainnya untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus menjaga ekosistem dalam jangka panjang. (*)