BERAU TERKINI – Rencana Pemerintah Kabupaten Berau untuk menggelar pasar ikan murah secara rutin sebulan sekali dipastikan tidak akan menjadi pesaing atau ancaman bagi para pedagang ikan yang berjualan dengan harga normal di pasar tradisional.

Agenda berkala ini dirancang secara matang oleh pemda dengan tetap mempertimbangkan faktor musiman serta ketersediaan stok ikan di pasaran.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, mengungkapkan, pelaksanaan pasar ikan murah yang baru saja digelar di Sambaliung berhasil menghabiskan sekitar 6,4 ton ikan dari berbagai jenis.

Melihat tingginya animo masyarakat yang datang memborong, pihaknya berencana mendongkrak volume pasokan komoditas ikan hingga menyentuh angka 10 ton pada pelaksanaan berikutnya.

“Ini kita mencoba dengan 6,4 ton sudah antusias masyarakatnya. Berarti ke depan kita naikkan lagi jumlah yang akan kita siapkan nanti, mungkin nanti 8, 9, 10 ton,” ujar Majid, Sabtu (16/5/2026).

Majid menjelaskan, pasokan ikan yang disediakan dalam program ini sepenuhnya merupakan hasil tangkapan murni dari para nelayan lokal Berau.

Dalam menjaga stabilitas pasokan tersebut, pihaknya terus menjalin koordinasi yang erat dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Berau sebagai wadah yang menaungi para nelayan serta pelaku usaha perikanan di daerah.

Kolaborasi waktu pelaksanaan juga terus dievaluasi demi kenyamanan masyarakat.

“Makanya tadinya rencana hari Minggu kita majukan ke Sabtu. Ternyata Sabtu lebih membuka peluang, jadi hari Minggu kan orang bisa berkegiatan lain,” katanya.

Majid memaparkan, rencana eksekusi pasar murah bulanan ini ke depan akan selalu memantau pergerakan fluktuasi harga pasar secara berkala.

Dari total 13 kecamatan yang ada di Berau, ia mengidentifikasi wilayah perkotaan seperti Tanjung Redeb, Sambaliung, dan Gunung Tabur merupakan titik-titik yang paling potensial untuk penyelenggaraan program ini.

Menariknya, harga ikan yang ditawarkan dalam program ini nantinya sama sekali tidak menggunakan skema subsidi dana dari pemerintah.

Pemerintah daerah mengandalkan pemotongan rantai distribusi, sehingga harga yang sampai ke tangan konsumen bisa berada di bawah harga pasaran umum.

Meskipun dijual dengan harga yang lebih miring, Majid menegaskan kembali bahwa aktivitas ini tidak akan merusak omzet atau merugikan para pedagang ikan harian di pasar rakyat.

Langkah ini murni merupakan bagian dari fungsi jaring pengaman sosial pemerintah untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas daya beli masyarakat.

“Kita menjual ikan di bawah harga pasar, tapi tidak akan merugikan juga bagi penjual yang ada di pasar,” ucapnya.

Pihaknya menjamin keberadaan program ini tidak akan menjatuhkan struktur harga pasaran yang saat ini berlaku.

Hal ini mengingat durasi penjualannya yang sangat terbatas dan tidak dilakukan setiap hari.

“Dengan adanya pasar ikan murah ini bukan berarti mematikan pasar-pasar yang ada. Fungsi dari pemerintah adalah mengendalikan harga pasar,” tutup Majid. (*)