BERAU TERKINI – Perempuan paruh baya bernama Sabena (58) menjadi korban terkaman buaya liar, saat korban sedang memanen hasil pohon karet di Penajam, Penajam Paser Utara, Kaltim.
Dalam keterangan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, korban merupakan seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya bekerja di kebun karet.
Ia menyebut laporan pertama diterima Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) pada pukul 13.59 Wita, setelah korban tidak kembali dari kebun seperti biasanya.
Berdasarkan laporan keluarga, biasanya korban pulang setiap pukul 11.00 Wita untuk istirahat makan siang.
Namun pada waktu tersebut, korban tak kunjung pulang dan membuat keluarga khawatir.
Upaya pencarian awal dilakukan keluarga bersama warga dan aparat kelurahan di sekitar lokasi korban bekerja.
“Namun hari itu tidak kunjung pulang hingga keluarga melakukan pencarian,” ujarnya dalam laporan Gerbang Kaltim.
Namun, karena tidak membuahkan hasil, pihak kelurahan kemudian melaporkan kejadian tersebut ke BPBD untuk dilakukan pencarian lanjutan.

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), Babinsa, Bhabinkamtibmas, pihak kelurahan, serta warga dan pihak perusahaan sekitar kemudian melakukan pencarian intensif di area sekitar kebun dan aliran sungai.
Setelah beberapa jam melakukan pencarian, korban ditemkan di area bendungan PT MHL.
Lokasi tersebut berada sekitar 700 meter dari tempat korban bekerja.
“Saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia,” jelas Nurlaila.
Ia menambahkan, kondisi tubuh korban menunjukkan tanda-tanda kuat serangan buaya, dengan sejumlah bagian tubuh hilang dan luka parah di beberapa bagian.
“Diduga kuat korban diterkam buaya karena terdapat luka serius, seperti bagian tubuh yang tercabik serta organ dalam yang terlihat akibat luka terbuka,” katanya.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUD Ratu Aji Putri Botung PPU sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Nurlaila menyebut, lokasi kejadian berada di kawasan rawa yang terhubung dengan aliran sungai kecil di sekitar bendungan, yang diduga menjadi habitat buaya.
“Agar kejadian serupa tidak terulang, kami akan melakukan upaya pengendalian, termasuk rencana perburuan buaya bersama pihak terkait dengan koordinasi perusahaan setempat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2026 hingga April, sudah terjadi tiga kasus serangan buaya yang menewaskan warga di PPU.
Sebelumnya, korban juga tercatat di wilayah Pemaluan dan Sepaku.
“Imbauan sudah terus kami sampaikan agar warga waspada saat beraktivitas di sungai atau area rawan, termasuk pemasangan tanda peringatan, namun risiko di lapangan masih cukup tinggi,” tutupnya.
