BERAU TERKINI – Hasil uji laboratorium terhadap sampel air Sungai Siduung, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, akhirnya keluar.
Hasil analisis Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau menunjukkan adanya sejumlah parameter kualitas air yang perlu mendapat perhatian, terutama di bagian muara sungai.
Dari hasil pengujian sampel yang diambil pada 20 Oktober 2026, ditemukan tingkat keasaman (pH) air di muara mencapai 4,75.
Angka tersebut berada di bawah rentang pembanding pH 6–9 yang menunjukkan kondisi air cenderung asam.
Selain itu, kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) di muara tercatat sebesar 3,77 miligram per liter (mg/L) atau sedikit di bawah batas minimum untuk baku mutu air kelas 2.

Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhar, mengatakan, hasil analisis sementara juga menunjukkan perbedaan kualitas air di tiga titik pengambilan sampel, yakni hulu, dermaga, dan muara.
“Kondisi air yang terlalu asam berpotensi mengganggu keseimbangan fisiologis ikan, termasuk memengaruhi fungsi insang,” jelasnya, Senin (2/11/2026).
Dalam kondisi tertentu, tingkat keasaman juga dapat meningkatkan kelarutan maupun toksisitas sejumlah logam di perairan.
Sementara untuk parameter DO, bagian hulu tercatat 4,71 mg/L, dermaga 6,36 mg/L, dan muara hanya 3,77 mg/L.
Rendahnya oksigen terlarut di muara berpotensi memberikan tekanan terhadap kehidupan ikan, terutama jenis yang sensitif terhadap kekurangan oksigen.
Namun, dampaknya juga bergantung pada jenis ikan, lamanya paparan, suhu, serta kondisi perairan lainnya.
Tak hanya itu, hasil pengujian juga menemukan kandungan seng terlarut di bagian hulu mencapai 0,51 mg/L.
“Temuan ini menjadi salah satu parameter yang perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.
Di sisi lain, nilai total padatan tersuspensi atau Total Suspended Solid (TSS) pada ketiga titik pengambilan sampel relatif rendah dibandingkan baku mutu air sungai dalam PP Nomor 22 Tahun 2021.
Kondisi tersebut mengindikasikan jumlah partikel padatan yang tersuspensi dalam air relatif sedikit.
Meski demikian, rendahnya TSS tidak serta-merta memastikan seluruh kondisi kualitas air dalam keadaan baik.
“Karena parameter ini tidak mengukur seluruh zat terlarut, senyawa beracun, maupun mikroorganisme yang mungkin terdapat di dalam air,” ujarnya.
Zulkifli menegaskan, hasil analisis laboratorium tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab kematian ikan yang sebelumnya ditemukan di Sungai Siduung.
Berdasarkan tiga Laporan Hasil Uji (LHU) pada 28 Oktober 2026, terdapat tiga temuan utama yang memerlukan perhatian, yakni pH muara sebesar 4,75, DO muara 3,77 mg/L, serta kandungan seng terlarut di hulu sebesar 0,51 mg/L.
“Temuan ini menjadi dasar untuk pemeriksaan lanjutan. Namun, belum cukup untuk menetapkan penyebab kematian ikan maupun menyimpulkan adanya pencemaran dari sumber tertentu,” ujarnya.
Untuk memastikan penyebab kejadian tersebut, diperlukan verifikasi data, pengukuran langsung di lapangan saat kejadian, pengujian parameter tambahan, serta penelusuran sumber pencemar yang didukung bukti.
Zulkifli juga mengungkapkan, pemeriksaan laboratorium masih memiliki keterbatasan.
Sejumlah parameter yang berpotensi membantu menjelaskan kejadian tersebut belum dapat diuji karena bahan pemeriksaannya tidak tersedia di laboratorium DLHK Berau.
“Parameter yang belum diperiksa di antaranya warna, BOD, COD, amonia, sulfida, hingga pestisida,” terangnya. (*)
