BERAU TERKINI – Sebuah esai beasiswa tentang kontribusi untuk kampung halaman menjadi titik awal lahirnya UMKM berbasis lada yang kini sukses menembus pasar nasional. 

Adalah Hamka Jamal, pemuda lulusan manajemen agribisnis asal Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung, yang berhasil mengubah gagasan sederhana menjadi usaha kuliner lokal bernama “Sahangeo”.

Didirikan pada 2021 di Kampung Tumbit Dayak, Sahangeo hadir membawa semangat baru bagi petani lada lokal.

Berangkat dari keresahan melihat hasil pertanian lada yang belum memiliki nilai tambah tinggi, Hamka mencoba menghadirkan inovasi produk olahan berbasis komoditas unggulan Berau tersebut.

Nama Sahangeo diambilnya dari kata ‘sahang’ yang berarti lada dalam Bahasa Berau dan ‘saranghaeyo’ yang berarti aku cinta kamu.

“Harapannya produk ini dicintai masyarakat dan menambah rasa cinta di setiap masakan yang menggunakan produk kami,” ujar Hamka.

Awalnya, Sahangeo hanya memproduksi lada bubuk kemasan.

Namun seiring berkembangnya usaha, Hamka mulai melakukan inovasi dengan menghadirkan produk camilan khas berupa keripik Pisang Batubara.

Perjalanan mengembangkan usaha tentu tidak mudah. Hamka mengaku harus menghadapi tantangan, mulai dari memperkenalkan produk baru hingga bersaing dengan merek serupa di pasaran.

Pada 2022, PT Berau Coal hadir sebagai mitra pendamping dalam mendukung pengembangan UMKM yang juga sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Berau.

Berbagai dukungan diberikan, mulai dari pendampingan legalitas usaha, proses sertifikasi halal, fasilitasi pemasaran melalui Rumah Kemas Batiwakkal, hingga pelatihan manajemen usaha dan pemasaran digital.

Melalui pendampingan tersebut, produk Sahangeo mulai memenuhi standar pasar modern dan mampu memperluas pemasaran melalui platform digital seperti WhatsApp dan Instagram.

Dukungan pemerintah daerah juga disebut menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan usahanya.

Kini, Sahangeo mampu memproduksi sekitar 1.000 pcs lada bubuk setiap dua bulan. Sementara produk camilan miliknya terjual hingga 600 kemasan per bulan.

Tak hanya dikenal di Berau, produk Sahangeo kini sudah menembus berbagai daerah di Indonesia.

Produknya kini dipasarkan di Rumah Kemas Batiwakkal, sejumlah minimarket di Berau, Hypermart Samarinda dan Balikpapan, Food Mart Samarinda dan Balikpapan, pusat oleh-oleh Galu Banjarmasin, Bintang Mart dan Ar Rayhan Mart Banyuwangi, hingga Warung Pojok Yu Peni di Kutoarjo.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Berau Coal atas pendampingannya selama ini. Menurut saya, dampingan ini juga memberikan pemberdayaan kepada petani lada di kampung kami dan ibu rumah tangga agar lebih berdaya,” kata Hamka.

Ia menilai, akses terhadap sertifikasi dan pelatihan pemasaran digital sangat membantu memperluas distribusi produk, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi masyarakat dalam rantai pasok lokal.

Ke depan, Hamka berharap kolaborasi antara perusahaan, pemerintah dan pelaku UMKM dapat terus berlanjut agar semakin banyak potensi lokal Berau yang berkembang.

“Harapan saya, kolaborasi ini bisa terus berlanjut dan menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis potensi lokal di Kabupaten Berau,” pungkasnya. (*/Adv)