BERAU TERKINI – Industri depo peti kemas di Indonesia tengah bersiap mempercepat transisi menuju operasional yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Langkah strategis ini ditandai dengan upaya Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (ASDEKI) yang secara aktif merangkul produsen alat berat elektrik global guna mendorong implementasi Green Logistics (logistik hijau) di sektor kepelabuhanan nasional.
Dalam kunjungan kerjanya ke fasilitas produksi alat berat terkemuka Xuzhou Construction Machinery Group (XCMG) di Xuzhou, China, Ketua Umum ASDEKI, Mustofa Kamal Hamka, menegaskan pentingnya modernisasi alat penunjang logistik di tanah air.
Kunjungan tersebut berfokus pada peninjauan teknologi mesin bertenaga listrik (electric heavy equipment) yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan operasional ramah lingkungan di area depo dan pelabuhan.
Beberapa unit alat berat elektrik yang menjadi perhatian utama dalam penjajakan ini meliputi reach stacker, side loader, hingga forklift berbasis baterai.
Alat-alat tersebut diproyeksikan menggantikan armada konvensional berbasis bahan bakar fosil yang selama ini mendominasi industri logistik.
Menurut pihak ASDEKI, percepatan transisi ke alat berat elektrik bukan lagi sekadar opsi, melainkan sebuah kebutuhan strategis jangka panjang.
Selain berkontribusi signifikan pada penurunan emisi karbon nasional di sektor transportasi laut dan logistik, modernisasi ini juga menawarkan efisiensi biaya operasional yang tinggi di tengah fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) dunia.
“Kami terus mendorong seluruh anggota ASDEKI, operator pelabuhan, serta pelaku usaha logistik nasional untuk mulai beralih ke alat berat elektrik. Ini adalah langkah nyata dalam mendukung kebijakan pemerintah menciptakan ekosistem green port dan green logistics terintegrasi,” ujar Mustofa Kamal Hamka.

Senada, Ketua DPW ASDEKI Kaltim Nugrahi Mawan menilai bahwa penerapan teknologi hijau ini akan memperkuat daya saing industri depo kontainer domestik di kancah internasional.
Keberlanjutan bisnis jangka panjang kini sangat bergantung pada kemampuan industri dalam beradaptasi dengan standar lingkungan global yang semakin ketat.
ASDEKI berharap peninjauan langsung ke pabrik manufaktur di China ini dapat membuka peluang kerja sama yang konkret terkait pasokan, pemeliharaan, serta transfer teknologi alat berat listrik.
Kolaborasi lintas sektor antara asosiasi, penyedia teknologi global, dan pemerintah diyakini menjadi kunci utama demi mewujudkan sistem logistik nasional yang efisien, modern, dan bebas emisi di masa depan.
“Dengan mengadopsi energi terbarukan, kita tidak hanya berkontribusi pada lingkungan, tetapi juga memastikan keberlanjutan bisnis yang lebih stabil, efisien, dan kompetitif,” kata pria yang akrab disapa Ahong itu.
