BERAU TERKINI — Kondisi persediaan air bersih di Pulau Maratua kini berada dalam bayang-bayang ancaman yang mengkhawatirkan.

Saat ini, pemenuhan kebutuhan air bersih untuk tiga kampung di pulau terluar tersebut dilaporkan hanya bertumpu pada satu titik, yakni di Kampung Teluk Harapan.

Camat Maratua, Ashari, mengungkapkan, meski saat ini wilayahnya belum sepenuhnya menghadapi kekeringan ekstrem, potensi krisis air bersih diprediksi kuat bakal terjadi dalam waktu dekat.

Kondisi kritis ini dipastikan akan meledak jika cadangan air di Kampung Teluk Harapan terus-menerus dikuras secara massal tanpa adanya sumber alternatif.

“Kalau untuk kondisi ke depan, karena sumber air itu hanya ada di Teluk Harapan. Teluk Harapan itu memprihatinkan karena abrasi sudah agak dekat dari titik air,” ujar Ashari, Jumat (22/5/2026).

Embung di Kecamatan Maratua yang dibangun Pemkab Berau. (ZUHRI/BT)
Embung di Kecamatan Maratua yang dibangun Pemkab Berau. (ZUHRI/BT)

Guna mengantisipasi dampak buruk, ia menyebut keberadaan proyek pembangunan embung di Kampung Payung-Payung diharapkan bisa segera rampung dan difungsikan secara maksimal.

Saat ini, debit air di Teluk Harapan tergolong sangat minim lantaran sektor swasta, seperti resort wisata, juga mengambil air dari satu sumber yang sama.

Berdasarkan analisis cuaca, jika dalam beberapa bulan ke depan musim kemarau panjang benar-benar melanda, Pulau Maratua diprediksi akan kelangkaan air total.

“Kalau memang itu terjadi, saya yakin dua bulan ke depan Maratua akan krisis air sama sekali,” tegas Ashari.

Secara teknis, sumber air di Teluk Harapan murni berasal dari zona serapan pegunungan yang mengalir ke dataran rendah.

Oleh sebab itu, kelestarian vegetasi pohon di sekitar lokasi wajib dijaga ketat agar kemampuan tanah dalam mengikat air tidak rusak.

“Makanya pohon-pohon di sana macam itu kita memang harus jaga, karena memang Teluk Harapan itu yang agak rendah. Nah, di situ bukan sumber ya, dia serapan,” jelasnya.

Jika proyek embung utama belum bisa difungsikan dan kemarau telanjur datang, pihaknya menyarankan skenario darurat berupa pembelian air konsumsi dari Kecamatan Tabalar.

Wilayah Tabalar dipilih karena jaraknya masih relatif terjangkau, berbeda dengan kawasan Tanjung Batu yang kualitas airnya dinilai kurang layak dan tidak bisa dikonsumsi masyarakat.

“Kita akan beli air untuk minum saja, kita ambil dari Tabalar karena di sana yang sumber airnya masih bisa kita jangkau agak dekat,” ungkap Ashari.

Sejauh ini, memang belum ada cetak biru rencana jangka panjang dari pemerintah daerah untuk menangani ancaman kekeringan ini jika Teluk Harapan benar-benar kehabisan pasokan.

Fasilitas embung skala kecil yang dibangun lewat dana Corporate Social Responsibility (CSR) di Kampung Teluk Alulu kapasitasnya sangat terbatas, yakni hanya berukuran 6×6 meter dengan kedalaman 3 meter.

Wadah tersebut hanya mampu bertahan satu minggu untuk kebutuhan warga lokal Teluk Alulu. Itu pun tidak bisa dikonsumsi.

“Mandi dan nyuci saja itu karena kondisinya di sana itu terbuka, embungnya terbuka, bukan tertutup. Terutama kotoran monyet itu pasti ada, takutnya di situ,” keluhnya.

Ashari mengaku telah mengajukan persoalan hambatan infrastruktur embung ini secara lisan kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Berau. 

Namun, penanganan di lapangan lagi-lagi terbentur kebijakan efisiensi anggaran daerah, ditambah belum adanya laporan resmi yang diajukan secara tertulis oleh pihak kampung.

Warga yang melayani penjualan air bersih di Pulau Maratua. (ZUHRI/BT)
Warga yang melayani penjualan air bersih di Pulau Maratua. (ZUHRI/BT)

Siapkan Pembatasan Keran Air

Sebagai langkah taktis jangka pendek apabila dalam satu bulan ke depan hujan tidak kunjung turun, pihaknya berkomitmen akan melakukan pembatasan keran air di Teluk Harapan guna mengamankan stok domestik warga setempat.

Langkah ini diambil agar pemenuhan air tidak timpang akibat terbagi-bagi secara tidak terkendali.

“Kita close dalam arti kita tidak akan menutup full, kita akan membatasi kebutuhan-kebutuhan dasar saja, yang nanti kita berikan air itu ke depannya kalau memang kondisinya darurat,” tuturnya.

Kebijakan pembatasan tersebut sengaja diberlakukan demi mencegah terjadinya kesenjangan sosial yang tajam antara masyarakat ekonomi menengah ke bawah dengan para pelaku industri wisata. 

Pihaknya dipastikan akan mendahulukan warga lokal yang tidak memiliki kemampuan finansial tinggi untuk membeli air kemasan secara terus-menerus.

“Saya akan atur kebutuhan yang mendasar itu, yang saya berikan kepada orang-orang di bawah dulu, ekonomi ke bawah,” ujarnya.

Sementara untuk operasional komersial seperti resort, mereka akan diarahkan secara mandiri untuk menyuplai kebutuhan air dari wilayah luar seperti Tanjung Redeb atau Tabalar.

Ashari juga menaruh harapan besar agar proyek embung modern untuk pemenuhan hajat hidup warga di empat kampung Pulau Maratua bisa segera direalisasikan pemerintah pusat maupun daerah.

“Sifatnya embung itu nanti lebih ke pengelolaan airnya kan, lebih sifatnya ke modern, paling tidak kajian-kajiannya sudah masuk untuk di mereka ini bisa dikonsumsi atau tidak. Itu yang kita harapkan embung itu bisa berjalan dan bisa dikonsumsi airnya,” pungkasnya. (*)