BERAU TERKINI – Harga sejumlah sayuran di Kabupaten Berau berpotensi kembali normal seiring membaiknya curah hujan. 

Namun, selama pasokan belum pulih, masyarakat masih harus menghadapi kenaikan harga komoditas hortikultura, termasuk bayam dan kangkung, yang ikut menyumbang inflasi di Berau pada September 2026.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, menjelaskan, kondisi cuaca yang masih beralih dari musim kemarau ke musim hujan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produksi sayuran.

Meski hujan mulai turun di hampir seluruh wilayah, intensitasnya dinilai belum cukup tinggi untuk mendukung pemulihan produksi secara optimal.

“Alhamdulillah, hampir semua daerah sudah hujan, tapi intensitasnya masih belum banyak. Sehingga itulah faktor penghambat sebenarnya kenapa produksi sayur-sayuran itu masih kurang,” ujarnya pada Berauterkini.

Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Diva/BT)
Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Diva/BT)

Menurut Lita, berkurangnya produksi berdampak langsung terhadap ketersediaan sayuran di pasaran. 

Ketika pasokan menurun sementara permintaan tetap ada, harga cenderung mengalami kenaikan mengikuti mekanisme pasar.

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian karena bayam dan kangkung merupakan komoditas hortikultura yang berkontribusi terhadap tekanan inflasi.

Berdasarkan data BPS mengenai perkembangan inflasi September 2026, Berau mengalami inflasi bulanan sebesar 0,61 persen.

Bayam dan kangkung termasuk komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi bersama cabai rawit, tomat, dan jagung manis.

Lita berharap, meningkatnya intensitas hujan ke depan dapat membantu memulihkan produksi sayuran, sehingga pasokan kembali tersedia dalam jumlah memadai dan harga berangsur stabil.

“Kalau hujannya kembali normal, insya Allah harga kangkung, bayam, sawi dan lain sebagainya akan normal kembali,” katanya.

Di sisi lain, Lita melihat kenaikan harga dari perspektif petani. Menurutnya, kondisi tersebut tidak selalu merugikan seluruh pihak karena petani berpeluang memperoleh pendapatan lebih baik setelah kerap menghadapi harga jual yang rendah saat panen melimpah.

Ia mengatakan, petani terkadang sudah menanam dalam jumlah besar, tetapi ketika masa panen tiba harga justru turun. 

Karena itu, kenaikan harga saat ini menjadi kesempatan bagi petani untuk menikmati hasil usaha mereka dengan nilai jual yang lebih baik.

Meski demikian, ia berharap pemulihan produksi dapat segera terjadi agar petani tetap memperoleh hasil yang layak dan masyarakat bisa mendapatkan sayuran dengan harga yang lebih terjangkau. (*)