BERAU TERKINI – Dunia pendidikan di Indonsia kembali berduka, setelah murid SMA dengan keluarga miskin harus meningal dunia karena ukuran sepatu yang kekecilan.
Peristiwa ini terjadi di Samarinda, dari seorang murid SMK kelas 2 bernama Mandala Rizky Syahputra berusia 16 tahun.
Ia menderita komplikasi dari penyakit yang dimulai dari kaki yang sakit akibat sepatu dengan ukuran lebih kecil terpaksa digunakan.
Mandala merupakan warga Samarinda yang tinggal dekat dengan pusat pemerintahan, di Jalan Tarmidi, Sungai Pinang Luar, Kaltim.
Dalam laporan Regional Kompas, sang ibu, Ratnasari (40) menceritakan kepiluan keluarganya yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Sebab sang anak harus memaksakan diri untuk menggunakan sepatu berukuran 40 di kakinya yang berukuran 44 dengan dibungkus pembungkus buah untuk meredam rasa sakit.
“Tapi dia tetap pakai sepatu itu,” ucap Ratnasari.

Kondisi Mandala semakin memburuk saat ia menjalani program magang sebagai pramuniaga di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda.
Pekerjaan tersebut menuntutnya berdiri sepanjang hari tanpa banyak kesempatan untuk beristirahat atau duduk.
Infeksi pada kakinya yang lecet akibat gesekan sepatu sempit menyebar, membuat nafsu makan Mandala menurun drastis hingga tubuhnya menjadi sangat kurus.
Ratnasari sempat membawa anaknya berobat, namun kondisi ekonomi yang mencekik membuatnya tidak menyadari bahwa kesehatan sang putra telah mencapai titik kritis.
Mandala akhirnya meninggal dunia saat tidur. Sebelum tiada, ia sempat mengutarakan keinginan yang sangat sederhana namun tak mampu dipenuhi ibunya.
“Dia bilang, ‘Bu, bisa tidak belikan Mandala sepatu?’ Saya bilang nanti dulu. Dia jawab, ‘Mandala lupa kalau Mandala anak yatim,’” tutur Ratnasari sambil menahan tangis.
Ketua Tim Respon Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Wilayah Kaltim, Rina Zainun, menegaskan bahwa kasus ini merupakan tamparan keras bagi dunia pendidikan.
Berdasarkan investigasi lapangan, ia membantah kabar awal yang menyebut Mandala meninggal karena murni gizi buruk.
“Awalnya dikabarkan gizi buruk, tapi ternyata berawal dari sepatu yang kesempitan. Kondisi kaki yang mengalami gesekan diperparah dengan aktivitas berdiri seharian saat magang,” jelas Rina.
Rina juga mengkritik kebijakan bantuan pendidikan yang dinilai tidak merata.
Menurutnya, bantuan perlengkapan sekolah seperti sepatu dan seragam tidak boleh hanya fokus pada siswa baru kelas 1, tetapi juga harus menyentuh siswa kelas 2 dan 3 yang benar-benar membutuhkan.
“Untuk apa ada data penghasilan orangtua kalau tidak digunakan? Kematian Mandala mencederai dunia pendidikan. Ada anak meninggal karena tidak mampu membeli sepatu,” tegasnya.
