BERAU TERKINI – Video permohonan maaf Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dinilai memiliki latar belakang tekanan yang tinggi dalam kacamata psikolog.
Hal itu terlihat dari pergeseran sikap gubernur yang awalnya cenderung mempertahankan diri, menjadi lebih terbuka dan mau mengoreksi diri.
Pandangan ini diutarakan Dosen Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul), Ayunda Ramadhani.
Ia mengatakan, kondisi masyarakat Kaltim saat ini berada dalam situasi sensitif menyusul sejumlah kebijakan kepala daerah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Hal ini dipicu oleh polemik pengadaan mobil dinas mewah, renovasi rumah jabatan, hingga isu nepotisme.
“Video itu untuk menurunkan sentimen massa,” kata Ayunda dalam laporan Kaltim Today.

Ayunda mencermati adanya perubahan gaya komunikasi Gubernur dalam video tersebut.
Sebelumnya, Rudy Mas’ud cenderung bersikap defensif dan lebih banyak menggunakan dasar aturan untuk membela diri saat menjawab gejolak di masyarakat.
“Namun, kunci utamanya bukan hanya pada penyampaian permintaan maaf, melainkan pada konsistensi kebijakan ke depan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ayunda menyebut permintaan maaf tersebut merupakan tanggung jawab moral seorang pemimpin daerah untuk mempertanggungjawabkan kebijakannya.
Langkah ini juga dipandang sebagai upaya untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari publik.
Meskipun menunjukkan jiwa besar dalam meredam konflik, Ayunda mengingatkan bahwa masyarakat perlu tetap mengawal realisasi janji tersebut.
Menurutnya, permintaan maaf akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan perubahan tindakan yang nyata.
“Jadi yang perlu digarisbawahi adalah konsistensi, mulai dari ucapan hingga tindakan yang benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat luas,” pungkasnya.
