BERAU TERKINI – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau terus mematangkan pengembangan kawasan Kota Tua Teluk Bayur sebagai destinasi wisata sejarah.

Sejumlah program telah disiapkan, mulai dari penyempurnaan konsep museum, penelusuran sejarah Teluk Bayur, hingga penyusunan paket wisata yang melibatkan masyarakat.

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa, mengatakan, salah satu fokus utama saat ini adalah penyusunan kajian tata letak museum.

Kajian tersebut menjadi syarat penting agar museum dapat berfungsi sesuai standar.

“Kami akan melakukan kajian terkait tata letak museum, mulai dari ruang pamer, alur sirkulasi pengunjung, aspek kenyamanan, materi yang disajikan hingga benda-benda koleksi yang akan dipamerkan. Ini menjadi persyaratan penting bagi sebuah museum,” ujarnya kepada Berauterkini, Rabu (15/7/2026).

Gapura Teluk Bayur, Berau (Ist)
Gapura Teluk Bayur, Berau (Ist)

Selain itu, Disbudpar juga akan melakukan penelusuran jejak sejarah Teluk Bayur sebagai kawasan pertambangan batu bara pada masa kolonial Belanda sejak 1912. 

Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat narasi sejarah yang akan menjadi materi utama di museum maupun kawasan wisata sejarah.

“Kami ingin menghadirkan bukti-bukti sejarah yang kuat mengenai Teluk Bayur sebagai kota berbasis batu bara pada masa Belanda. Nilai sejarah inilah yang nantinya akan menjadi daya tarik utama kawasan Kota Tua,” jelasnya.

Terkait revitalisasi kawasan, Yudha menegaskan tidak ada pekerjaan penataan yang dianggarkan pada tahun ini. 

Meski demikian, penataan kawasan tetap menjadi bagian dari rencana jangka panjang sesuai masterplan yang telah disusun.

“Untuk tahun ini belum ada anggaran revitalisasi. Penataan kawasan sesuai masterplan memang sudah direncanakan, tetapi belum teranggarkan. Saat ini kami ingin memaksimalkan terlebih dahulu bangunan-bangunan yang sudah direvitalisasi agar seluruh fungsinya berjalan optimal,” katanya.

Apabila seluruh bangunan telah berfungsi sebagaimana mestinya, Disbudpar berencana menghadirkan berbagai agenda dan kegiatan berbasis Kota Tua sebagai atraksi wisata yang dapat menarik kunjungan wisatawan.

“Ke depan tentu akan kami isi dengan berbagai agenda atau event yang berbasis Kota Tua, sehingga kawasan ini memiliki aktivitas yang berkelanjutan dan menjadi daya tarik wisata,” tambahnya.

Dalam pengembangan destinasi wisata, Disbudpar juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat. 

Menurut Yudha, seluruh destinasi wisata di Berau saat ini dikelola dengan melibatkan pemerintah kampung melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), maupun kelompok masyarakat lainnya.

“Semua destinasi wisata di Berau melibatkan masyarakat. Ada yang dikelola oleh pemerintah kampung melalui BUMK, ada Pokdarwis, dan ada juga kolaborasi keduanya bersama kelompok masyarakat lainnya. Model seperti ini akan terus kami dorong,” ungkapnya.

Ke depan, Disbudpar juga akan menyusun paket wisata yang menghubungkan berbagai destinasi yang berada dalam satu kawasan atau masih mudah dijangkau.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah akan menyiapkan panduan atau standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan destinasi yang disesuaikan dengan karakter masing-masing lokasi wisata.

Yudha mengakui tantangan terbesar dalam mengembangkan Kota Tua Teluk Bayur bukan hanya menjaga nilai sejarahnya, tetapi juga menghadirkannya agar tetap relevan bagi generasi muda di tengah kehidupan modern dan era digital seperti sekarang.

“Karena itu kami akan menonjolkan sisi edukasi, literasi sejarah, sekaligus memadukannya dengan selera generasi Z agar Kota Tua Teluk Bayur menjadi destinasi yang menarik untuk semua kalangan,” pungkasnya. (*)