BERAU TERKINI — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Berau mencatat tren kunjungan perpustakaan yang sangat positif sepanjang awal 2026.
Berdasarkan data 2025, total pengunjung perpustakaan umum mencapai 9.575 orang, dengan dominasi kaum perempuan sebanyak 6.178 orang dibandingkan laki-laki sebanyak 3.397 orang.
Tren ini berlanjut hingga April 2026, di mana tercatat sebanyak 2.241 orang telah berkunjung ke perpustakaan.
Namun, angka tersebut sejatinya jauh lebih besar jika digabungkan dengan aktivitas literasi luar ruang.
Data saat ini belum mencakup pengunjung di kafe literasi, kontainer buku bacaan, serta layanan perpustakaan keliling yang menyasar sekolah-sekolah, kampung, hingga area Car Free Day (CFD).

Meskipun Dispusip memiliki English Lab untuk pendataan otomatis, banyak aktivitas di lapangan yang masih tercatat secara manual, sehingga belum terinput sepenuhnya ke dalam sistem daftar kunjungan utama.
Kepala Dispusip Berau, Rabiatul Islamiah, menegaskan, kendala utama dalam digitalisasi data di lapangan adalah masalah infrastruktur jaringan.
Walaupun armada perpustakaan keliling sudah dilengkapi dengan perangkat komputer (PC), akses internet belum menjangkau seluruh kampung di Berau secara merata.
“Kalau itu kan masih manual, itu yang kita belum input. Kemudian kita kunjungan sekolah walaupun di dalam mobil itu juga ada PC kita yang lengkap di situ, tapi kan jangkauan-jangkauan internet tidak semua desa kampung kan lancar, itu kesulitannya,” jelas Rabiatul kepada Berauterkini, Kamis (14/5/2026).
Selain masalah sinyal, operasional perpustakaan keliling yang menjangkau wilayah jauh seperti Tanjung Batu, Segah, hingga Bidukbiduk juga terbentur efisiensi anggaran.
Biaya Bahan Bakar Minyak (BBM) dan konsumsi selama perjalanan menjadi beban operasional yang cukup berat di tengah keterbatasan dana saat ini.
“Itu kan juga terkait dengan efisiensi karena biar bagaimanapun kan kalau kita jalan kan perlu minyak,” imbuhnya.
Kondisi armada juga menjadi tantangan tersendiri bagi Dispusip.
Saat ini, hanya tersedia dua unit mobil perpustakaan keliling.
Ironisnya, hanya satu unit yang dapat beroperasi normal, sementara satu unit lainnya mengalami rusak berat.
Meski demikian, Rabiatul memastikan perbaikan terus diupayakan agar pelayanan kepada masyarakat, terutama di daerah yang susah dijangkau, tetap maksimal.
Masalah tidak berhenti di sarana fisik, sektor Sumber Daya Manusia (SDM) juga mengalami kekurangan, khususnya pada posisi sopir.
Bidang pelayanan saat ini hanya memiliki sembilan orang pegawai, sehingga Dispusip harus melatih staf internal untuk merangkap tugas sebagai sopir sekaligus petugas layanan literasi di lapangan.
“Di pelayanan sendiri itu di bidang ada sembilan orang. Artinya dengan keterbatasan SDM seperti ini, itu kan perlu sopir yang jelas, sopir itu tidak hanya bertugas sebagai sopir, dia juga bertugas sebagai melaksanakan atau melayani orang-orang yang membaca buku,” ujarnya.
Para petugas ini diberikan edukasi khusus agar mampu menangani berbagai tahapan pelayanan, mulai dari penataan buku hingga administrasi peminjaman.
Bahkan, karena keterbatasan petugas lapangan, pimpinan Dispusip pun tak jarang ikut turun langsung untuk melayani masyarakat.
Rabiatul menekankan, misi utama mereka adalah menanamkan kecintaan pada buku fisik di tengah gempuran teknologi digital.
“Selain artinya mereka disuruh membaca, kita mengedukasi bagaimana pentingnya itu membaca buku. Bukan membaca di HP, tetapi membaca buku,” tutupnya. (*)
