BERAU TERKINI – DLHK Berau mengungkap hasil uji laboratorium dari sampel air yang diambil di Sungai Siduung.
Kondisi air sungai Siduung di Kecamatan Segah, Berau mendadak berubah menjadi kehijauan.
Tak hanya itu, sejumlah ikan dilaporkan mati tak jauh dari lokasi air sungai yang menghijau.
Tim dari DLHK Berau pun mengambil sampel untuk melakukan uji laboratorium guna menyelidiki penyebab dari perubahan warna air dan kematian ikan.
Kini, hasil uji laboratorium itu sudah keluar. Hasil analisa DLHK Berau menunjukkan adanya sejumlah parameter kualitas air yang perlu mendapat perhatian, terutama di bagian muara sungai.
Dari hasil pengujian sampel yang diambil pada (20/10) lalu, ditemukan tingkat keasaman (pH) air di muara mencapai 4,75. Angka tersebut berada di bawah rentang pembanding pH 6–9, yang menunjukkan kondisi air cenderung asam.
Selain itu, kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) di muara tercatat sebesar 3,77 miligram per liter (mg/L). Nilai tersebut sedikit di bawah batas minimum DO untuk baku mutu air kelas 2.
Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhar, mengatakan, hasil analisis sementara juga menunjukkan perbedaan kualitas air di tiga titik pengambilan sampel, yakni hulu, dermaga, dan muara.
“Kondisi air yang terlalu asam berpotensi mengganggu keseimbangan fisiologis ikan, termasuk memengaruhi fungsi insang,” jelasnya, Senin (2/11/2026).
Dalam kondisi tertentu, kata dia, tingkat keasaman juga dapat meningkatkan kelarutan maupun toksisitas sejumlah logam di perairan.
Sementara untuk parameter DO, bagian hulu tercatat 4,71 mg/L dan dermaga 6,36 mg/L. Adapun muara hanya 3,77 mg/L.
Rendahnya oksigen terlarut di muara berpotensi memberikan tekanan terhadap kehidupan ikan, terutama jenis yang sensitif terhadap kekurangan oksigen.
“Namun, dampaknya juga bergantung pada jenis ikan, lamanya paparan, suhu, serta kondisi perairan lainnya.
Tak hanya itu, hasil pengujian juga menemukan kandungan seng terlarut di bagian hulu mencapai 0,51 mg/L.

“Temuan ini menjadi salah satu parameter yang perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.
Di sisi lain, nilai total padatan tersuspensi atau Total Suspended Solid (TSS) pada ketiga titik pengambilan sampel relatif rendah, dibandingkan baku mutu air sungai dalam PP Nomor 22 Tahun 2021.
Kondisi tersebut mengindikasikan jumlah partikel padatan yang tersuspensi dalam air relatif sedikit. Meski demikian, rendahnya TSS tidak serta-merta memastikan seluruh kondisi kualitas air dalam keadaan baik.
“Karena, parameter ini tidak mengukur seluruh zat terlarut, senyawa beracun, maupun mikroorganisme yang mungkin terdapat di dalam air,” ujarnya.
Zulkifli menegaskan, hasil analisis laboratorium tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab kematian ikan, yang sebelumnya ditemukan di Sungai Siduung.
Berdasarkan tiga Laporan Hasil Uji (LHU) tertanggal 28 Oktober 2026, terdapat tiga temuan utama yang memerlukan perhatian, yakni pH muara sebesar 4,75, DO muara 3,77 mg/L, serta kandungan seng terlarut di hulu sebesar 0,51 mg/L.
“Temuan ini menjadi dasar untuk pemeriksaan lanjutan. Namun, belum cukup untuk menetapkan penyebab kematian ikan maupun menyimpulkan adanya pencemaran dari sumber tertentu,” ujarnya.
Untuk memastikan penyebab kejadian tersebut, diperlukan verifikasi data, pengukuran langsung di lapangan saat kejadian, pengujian parameter tambahan, serta penelusuran sumber pencemar yang didukung bukti.
Zulkifli juga mengungkapkan, pemeriksaan laboratorium masih memiliki keterbatasan.
Sejumlah parameter yang berpotensi membantu menjelaskan kejadian tersebut belum dapat diuji karena bahan pemeriksaannya tidak tersedia di laboratorium DLHK Berau.
“Parameter yang belum diperiksa di antaranya warna, BOD, COD, amonia, sulfida, hingga pestisida,” terangnya.
“Karena bahan untuk menguji beberapa parameter tersebut tidak tersedia di laboratorium kami, maka belum bisa dilakukan pengujian,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, pada Senin (19/10/) lalu, tim DLHK mengambil tiga sampel air dari titik berbeda untuk diperiksa lebih lanjut.
Ketiga titik tersebut berada di kawasan Siduung Muara, bawah Jembatan Siduung, dan Dermaga Siduung Indah.
Pengambilan sampel dilakukan dengan pendampingan dari sekretaris kampung setempat.
Hasil pengujian laboratorium nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi air sungai yang mengalami perubahan warna tersebut.
Diketahui, kondisi air sungai Siduung di Kampung Siduung Indah, Kecamatan Segah, Berau berubah warna menjadi kehijauan.
Kondisi air sungai yang berubah warna itu diikuti oleh laporan kematian sejumlah ikan di permukaan sungai.
DLHK Berau pun bergerak menindaklanjuti fenomena tersebut dengan menerjunkan tim ke lokasi pada Senin (19/10/2026) pagi.
Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan timnya telah mendatangi lokasi untuk menindaklanjuti laporan perubahan kondisi air sungai tersebut.
“Tim DLHK sudah ke lokasi tadi pagi,” katanya melalui pesan WhatsApp kepada berauterkini.co.id
Menurut Zulkifli, kedatangan tim tidak hanya sebatas melakukan peninjauan lapangan.
Petugas juga mengambil sampel air dari sejumlah titik di area sungai untuk mengetahui kondisi air dan mengidentifikasi kemungkinan penyebab perubahan warna tersebut.
Sampel air itu selanjutnya akan diperiksa di laboratorium, hasil pemeriksaan diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi kualitas air Sungai Siduung Indah.
Dia menyebut pengambilan sampel itu sekaligus membantu memastikan faktor yang menyebabkan air berubah warna, dan sejumlah ikan ditemukan mati.
“Tim akan ambil sampel air di sana. Segera, kalau sudah ada hasil sampel di laboratorium, akan kami sampaikan,” pungkasnya.
