BERAU TERKINI – Potensi kakao di Kabupaten Berau tidak hanya bergantung pada luasnya lahan, tetapi juga kemampuan petani dalam merawat tanaman agar menghasilkan panen yang berkualitas.
Melihat peluang tersebut, PT Berau Coal melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) terus mendorong pengembangan kakao sebagai salah satu sektor unggulan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Tak sekadar memberikan bantuan sarana pertanian, perusahaan melalui Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal (YDBBC) mendampingi petani sejak tahap penanaman, pemeliharaan, hingga perbaikan kebun yang belum produktif secara optimal.
Sejak dijalankan secara lebih terarah pada 2024, program ini terus diperluas. Pada periode Januari hingga 22 Oktober 2026, sebanyak 1.290 petani kakao telah mendapatkan pendampingan, mencakup petani baru maupun petani yang telah lama mengelola kebun, tetapi masih menghadapi kendala dalam meningkatkan produktivitas.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya PT Berau Coal untuk memastikan pengembangan kakao tidak berhenti pada pemberian bantuan, melainkan juga membangun pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan petani dalam mengelola kebun secara berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, pendampingan dilakukan melalui sekolah lapang yang memberikan pemahaman mengenai teknik budidaya kakao sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP). Petani mempelajari berbagai teknik penanaman dan pemeliharaan tanaman agar mampu mengelola kebun secara lebih tepat.

Setelah mengikuti sekolah lapang, petani baru juga mendapatkan dukungan berupa bibit kakao bersertifikat, bibit tanaman penaung, pupuk, dan dolomit.
Pendampingan kemudian dilanjutkan melalui kunjungan berkala oleh tim YDBBC untuk memantau perkembangan tanaman, mengidentifikasi kebutuhan, serta membantu petani mengatasi kendala selama proses budidaya.
Sementara itu, bagi petani yang telah lama memiliki kebun kakao, PT Berau Coal menghadirkan program rehabilitasi untuk memperbaiki kondisi tanaman dan mendorong peningkatan produktivitas.
Melalui program tersebut, petani mendapatkan pengetahuan mengenai peremajaan tanaman, praktik budidaya yang baik, serta dukungan sarana produksi pertanian (saprodi) dan pupuk sesuai kebutuhan.
Pendampingan dilakukan melalui sekolah lapang maupun kunjungan langsung ke kebun.
Program rehabilitasi ini menjadi penting bagi petani yang ingin mengoptimalkan kebunnya, tetapi membutuhkan pengetahuan dan dukungan tambahan untuk melakukan perbaikan.
Manfaat pendampingan tersebut dirasakan Agustinus Burman, petani kakao di Kampung Suaran, yang telah mengelola kebun sejak 2010 bersama istrinya, Isadora.
Bagi mereka, pengembangan kakao tidak hanya berkaitan dengan merawat tanaman, tetapi juga bagaimana mempertahankan dan meningkatkan potensi kebun yang telah dikelola selama bertahun-tahun.
Melalui program rehabilitasi kakao, Isadora memperoleh pengetahuan baru mengenai teknik perawatan tanaman, termasuk teknik sambung samping yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peremajaan tanaman kakao.
“Program ini sangat bagus dan membantu meningkatkan kualitas kebun kami. Kami mendapatkan ilmu baru tentang cara merawat kakao, termasuk teknik sambung samping. Harapannya, Berau Coal dapat terus mendampingi kami sebagai petani,” ujar Isadora.
Pengetahuan yang diperoleh melalui sekolah lapang menjadi bekal bagi petani untuk menerapkan teknik budidaya yang lebih baik.
Dengan demikian, perbaikan kebun tidak hanya bergantung pada bantuan dari luar, tetapi juga didukung kemampuan petani dalam merawat tanaman secara mandiri.
Pengalaman serupa dirasakan Ferdinandus Seman (49), petani kakao yang mengikuti program rehabilitasi. Ia mengapresiasi bantuan sarana produksi pertanian dan pupuk yang diterimanya untuk mendukung perbaikan kebun.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Berau Coal atas bantuan yang diberikan. Saya sangat bersyukur karena bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami. Kalau harus membeli sendiri, biayanya juga lumayan,” ungkap Ferdinandus.
Selain memperoleh bantuan saprodi dan pupuk, Ferdinandus juga mengikuti sekolah lapang serta mendapatkan pendampingan langsung dari tim YDBBC.
Melalui pendampingan tersebut, ia memperoleh pengetahuan untuk menerapkan teknik perawatan dan perbaikan kebun kakao.
Bagi petani, dukungan sarana produksi dapat membantu mengurangi beban biaya yang harus ditanggung.
Sementara itu, pendampingan dan pembelajaran menjadi bekal penting untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola kebun.
Community Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan, mengatakan, pengembangan kakao merupakan bagian dari upaya perusahaan mendukung penguatan ekonomi masyarakat melalui potensi lokal yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
“Melalui program ini, kami ingin mendukung petani agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola kebun kakao,” ujar Reza.
Ia menambahkan, keterlibatan aktif petani menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Karena itu, petani didorong untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pendampingan dalam kegiatan pengelolaan kebun sehari-hari.
Dengan penerapan praktik budidaya yang lebih baik, kebun kakao diharapkan dapat dikelola secara lebih optimal, sehingga membuka peluang peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Melalui Program Pengembangan Kakao, PT Berau Coal terus berupaya mendukung peningkatan kapasitas petani sekaligus mendorong pengembangan potensi kakao di Kabupaten Berau.
Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan juga diharapkan dapat memperkuat kemampuan petani dalam mengelola kebunnya, meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian, serta membuka peluang bagi tumbuhnya kemandirian ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. (*/Adv)
