BERAU TERKINI – Di tengah gangguan jaringan transmisi 150 kilovolt (kV) yang menghubungkan Gardu Induk (GI) Maloy dan Talisayan, beban puncak pemakaian listrik di Kabupaten Berau saat ini berada di kisaran 47–50 megawatt (MW).

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam menjaga keandalan pasokan listrik, terutama ketika kebutuhan masyarakat terus bertambah dan jaringan transmisi mengalami gangguan.

Manager PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tanjung Redeb, Clif Salomo Panjaitan, mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan listrik itu, PLN mengoptimalkan pembangkit lokal serta pasokan dari sistem interkoneksi Kalimantan.

“Dari sisi sumber pasokan, Berau memiliki kapasitas pembangkit lokal sebesar 37,5 MW, jelas tidak mencukupi beban yang ada, sementara dukungan dari sistem interkoneksi Kalimantan sebesar 27,7 MW mengalami gangguan,” jelasnya, Selasa (27/10/2026).

Meski demikian, kemampuan penyaluran listrik tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas pembangkit. 

Kondisi operasional pembangkit dan jaringan transmisi, juga memengaruhi ketersediaan daya yang dapat disalurkan kepada pelanggan.

Menurut Clif, PLN terus mengoptimalkan sumber pasokan yang tersedia sekaligus berkoordinasi dengan unit terkait untuk menjaga kontinuitas pelayanan listrik kepada masyarakat.

Terkait gangguan jaringan transmisi 150 kV yang menghubungkan GI Maloy dan Talisayan, Clif menjelaskan, sistem kelistrikan Berau pada prinsipnya telah terhubung dengan sistem interkoneksi Kalimantan. 

Namun, gangguan pada jaringan tersebut saat ini memengaruhi penyaluran pasokan listrik melalui jalur interkoneksi.

“PLN bersama unit-unit terkait terus berkoordinasi dan melakukan langkah percepatan pemulihan jaringan. Sementara proses penanganan berlangsung, PLN mengoptimalkan pembangkit lokal dan sumber pasokan yang tersedia untuk menjaga pelayanan kelistrikan masyarakat Berau,” ujarnya.

 

Konsumsi Listrik Tumbuh 9 Persen per Tahun

Di sisi lain, tantangan kelistrikan Berau bukan hanya berkaitan dengan gangguan jaringan, tetapi juga pertumbuhan kebutuhan listrik yang terus meningkat.

Clif menyebut, konsumsi listrik di Kabupaten Berau tumbuh rata-rata sekitar 9 persen per tahun. 

Peningkatan tersebut sejalan dengan berkembangnya aktivitas masyarakat, sektor perdagangan, rumah tangga, hingga dunia usaha.

Pertumbuhan itu membuat penguatan infrastruktur kelistrikan menjadi kebutuhan penting agar peningkatan permintaan dapat diimbangi dengan kesiapan pasokan dan jaringan distribusi.

“Kami dari PLN terus memantau perkembangan beban listrik sebagai dasar perencanaan pengembangan sistem kelistrikan di Berau,” terangnya. 

Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan listrik dalam lima tahun mendatang, PLN menyiapkan penguatan infrastruktur kelistrikan. Salah satunya melalui penambahan kapasitas transformator di Gardu Induk Tanjung Redeb.

“Rencananya berupa penambahan transformator dengan kapasitas 2 × 60 MVA,” katanya.

Penguatan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan penyaluran listrik seiring bertambahnya kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha.

Clif mengatakan, PLN optimistis kebutuhan listrik Berau dalam lima tahun ke depan dapat terus didukung melalui penguatan sistem kelistrikan yang telah direncanakan.

“PLN juga terus mengevaluasi perkembangan beban dan kesiapan infrastruktur agar pengembangan sistem kelistrikan dapat berjalan selaras dengan pertumbuhan ekonomi Berau,” pungkasnya. (*)