BERAU TERKINI – Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Berau, termasuk kawasan perkotaan Tanjung Redeb.
Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya kualitas udara hingga masuk kategori berbahaya dan memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara yang dilakukan UPTD Puskesmas Tanjung Redeb, Sabtu (19/9/2026), kadar partikel PM2,5 dan PM10 jauh melampaui ambang batas yang ditetapkan dalam Permenkes Nomor 2 Tahun 2023.
Untuk pengukuran luar ruangan, PM2,5 tercatat mencapai 318 mikrogram per meter kubik dan PM10 mencapai 1.234 mikrogram per meter kubik.
Sementara di dalam ruangan, PM2,5 berada di angka 309 mikrogram per meter kubik dan PM10 mencapai 1.147 mikrogram per meter kubik.
Padahal, baku mutu PM2,5 hanya 25 mikrogram per meter kubik dan PM10 maksimal 70 mikrogram per meter kubik.
Berdasarkan hasil tersebut, kualitas udara di Tanjung Redeb dinyatakan melebihi ambang batas dengan kategori berbahaya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Berau, Rahmawati, mengungkapkan dampak kabut asap mulai terlihat dari meningkatnya jumlah kasus ISPA yang ditangani fasilitas kesehatan.
Menurutnya, hingga pertengahan September 2026, jumlah kasus ISPA telah mencapai sekitar 5.100 kasus.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya sepanjang tahun ini.
“Ini peningkatan kasus tertinggi di antara semua bulan selama 2026, sekitar 5.100 kasus. Itu belum termasuk masyarakat yang melakukan pengobatan mandiri di rumah,” ujarnya kepada Berauterkini.
Rahmawati menjelaskan, dalam kondisi normal, jumlah kasus ISPA di Berau berkisar antara 2.000-3.000 kasus per bulan.
Lonjakan saat ini diduga kuat berkaitan dengan memburuknya kualitas udara akibat kabut asap yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Pemkab Berau pun mengambil sejumlah langkah antisipasi guna melindungi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Ia juga meminta masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah serta memperbanyak konsumsi air putih untuk mengurangi dampak paparan asap terhadap kesehatan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan, menggunakan masker saat berada di luar rumah dan membatasi aktivitas luar ruangan. Keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas bersama,” katanya.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga terus melakukan pemantauan perkembangan kasus ISPA dan kualitas udara di berbagai wilayah.
Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala gangguan pernapasan seperti batuk, sesak napas, pilek berkepanjangan, atau iritasi tenggorokan.
Sebagai langkah pencegahan, sejumlah sekolah di Berau juga kembali menerapkan pembelajaran dari rumah (BDR), sementara kegiatan posyandu masih ditutup, sementara hingga kondisi kualitas udara kembali membaik. (*)
