BERAU TERKINI – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau menutup sementara dua objek wisata, yakni Air Terjun Tembalang dan Bukit Mincau, sejak Senin (31/8/2026).
Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan keamanan dan keselamatan wisatawan di tengah kondisi kedaruratan, khususnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan, penutupan dilakukan setelah kondisi di lapangan dinilai belum memungkinkan bagi kedua destinasi tersebut untuk kembali dibuka.
Menurutnya, pemerintah tidak ingin mengambil risiko dengan tetap membuka objek wisata ketika situasi belum sepenuhnya aman bagi pengunjung maupun pengelola.

“Penutupan ini adalah langkah terbaik demi menjaga keamanan, keselamatan, sekaligus menyelamatkan destinasi wisata itu sendiri,” ujarnya, Jumat (4/9/2026).
Yudha menegaskan, penutupan tersebut bersifat sementara. Disbudpar akan melakukan pemantauan dan evaluasi setiap pekan untuk menentukan apakah destinasi masih perlu ditutup atau sudah dapat kembali dibuka.
“Untuk waktunya, kita pantau setiap pekan, karena kondisi kedaruratan ini juga dipantau setiap minggu. Kalau minggu ini situasi sudah membaik, tentu kita harapkan bisa kembali normal,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebijakan serupa juga berpotensi diterapkan terhadap destinasi wisata lainnya, terutama objek wisata yang berada di kawasan rawan bencana maupun pesisir.
Disbudpar saat ini memperkuat koordinasi dengan para pengelola destinasi untuk memperoleh informasi mengenai kondisi terkini di lapangan.
Informasi tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah pengamanan.
“Kami akan koordinasikan dengan teman-teman pengelola untuk menyampaikan kondisi terkini di destinasinya masing-masing. Jika memang perlu penyelamatan, kita berikan imbauan untuk ditutup sementara,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPRD Berau, Arman Nofriansyah, menilai penutupan sementara objek wisata yang berada di kawasan rawan karhutla merupakan langkah yang tepat.
Menurutnya, kebijakan tersebut dapat meminimalkan potensi kejadian yang tidak diinginkan, khususnya yang dapat mengancam keselamatan wisatawan.
“Iya memang perlu ada penyesuaian terkait dengan penutupan seperti di objek wisata yang berpotensi terjadi karhutla,” tuturnya.
Arman menyebut wilayah Kecamatan Segah menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian karena memiliki potensi titik panas.
Karena itu, keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas dalam pengelolaan destinasi wisata.
“Karena yang saat ini rawan itu kan karhutlanya, jadi ini harus menjadi perhatian untuk kita semua,” pungkasnya. (*)
