BERAU TERKINI – Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya gotong royong membersihkan lingkungan, khususnya saluran drainase dan parit, yang selama ini dinilai mulai terabaikan.
Menurutnya, budaya kerja bakti yang dahulu rutin dilakukan warga kini semakin jarang terlihat.
Padahal, kebiasaan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan lingkungan, sekaligus mencegah terjadinya banjir di kawasan permukiman.
Sutami mengatakan, salah satu penyebab genangan hingga banjir yang kerap terjadi saat curah hujan tinggi adalah kondisi drainase yang mengalami sedimentasi.
Dari informasi, tumpukan lumpur, sampah, hingga rumput gulma yang tumbuh di saluran air membuat aliran menjadi tidak lancar.

“Dulu masyarakat memiliki budaya gotong royong yang sangat kuat. Membersihkan parit, selokan, dan lingkungan sekitar dilakukan secara bersama-sama. Sekarang kegiatan seperti itu sudah mulai berkurang, padahal manfaatnya sangat besar untuk mencegah banjir,” katanya, Jumat (5/6/2026).
Ia menilai, penanganan persoalan drainase tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.
Partisipasi masyarakat juga diperlukan untuk menjaga kebersihan saluran air di lingkungan masing-masing.
“Kalau menunggu pemerintah saja tentu tidak cukup. Masyarakat juga harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.
Selain mengajak masyarakat mengaktifkan kembali kegiatan gotong royong, Sutami juga meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten (DLHK) Berau untuk lebih rutin melakukan pembersihan saluran drainase, terutama di titik-titik yang selama ini rawan terjadi genangan.
Menurutnya, langkah pembersihan berkala penting dilakukan agar sedimentasi dan pertumbuhan gulma tidak semakin parah hingga menghambat aliran air.
“DLHK perlu meningkatkan frekuensi pembersihan drainase, terutama di kawasan perkotaan yang padat penduduk. Jangan menunggu saluran tersumbat baru dilakukan penanganan,” tegasnya.
Tak hanya itu, ia juga mendorong Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau untuk melakukan pemetaan menyeluruh terhadap jaringan drainase dalam Kota Tanjung Redeb dan kawasan sekitarnya.
Pemetaan tersebut dinilai penting untuk mengetahui titik-titik saluran yang bermasalah, baik yang mengalami penyempitan, kerusakan, maupun yang kapasitasnya sudah tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.
“Dengan data yang jelas, penanganan bisa lebih tepat sasaran, baik melalui normalisasi, perbaikan, maupun pembangunan saluran baru,” ujarnya.
Sutami berharap, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dapat menjadi solusi dalam mengatasi persoalan banjir yang kerap terjadi di sejumlah wilayah Berau.
Ia menyampaikan, menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus terus ditumbuhkan demi menciptakan kawasan yang bersih, sehat, dan bebas genangan.
“Kalau budaya gotong royong kembali hidup dan didukung penanganan pemerintah yang maksimal, saya yakin persoalan drainase dan banjir di Berau bisa jauh berkurang,” pungkasnya. (*/Adv)

