BERAU TERKINI — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau mengungkap berbagai kendala teknis dan lapangan yang sering kali luput dari perhatian masyarakat saat proses pemadaman api.
Meski kerap mendapatkan protes akibat dianggap lambat dalam menangani kebakaran, Disdamkarmat Berau menegaskan tugas utama mereka adalah meminimalkan dampak kerugian seefektif mungkin di tengah keterbatasan yang ada.
Kepala Disdamkarmat Berau, Rakhmadi Pasarakan, menjelaskan, saat api sudah berkobar hebat, petugas harus mempertimbangkan banyak aspek teknis, terutama jika api telah merambat ke lebih dari satu bangunan.
Menurutnya, pemadaman tidak bisa dilakukan secara instan begitu saja.
“Yang pertama Damkar ini tidak bisa artinya begitu ada kebakaran, langsung padam. Kalau sudah terjadi kebakaran sejauh mana bisa kita padamkan,” ungkap Rakhmadi kepada Berauterkini.

Kecepatan informasi menjadi kunci utama dalam menekan luasnya dampak kebakaran.
Disdamkarmat sendiri memiliki standar respons time maksimal 15 menit untuk sampai di lokasi setelah laporan diterima.
Semakin lama jeda antara awal api muncul dengan informasi yang masuk ke petugas, maka saat petugas tiba, api dipastikan sudah membesar.
“Jadi besar kecilnya dampak luas kebakaran itu tergantung dari waktu antara kita menerima informasi kemudian kehandalan mesin,” ujarnya.
Selain faktor informasi, keandalan mesin armada, jumlah personel serta ketersediaan kendaraan menjadi penentu seberapa kecil kerugian yang bisa ditekan.
Dalam proses pemadaman, petugas tidak bisa langsung menyemprotkan air begitu tiba di lokasi karena harus memastikan aliran listrik telah padam sepenuhnya.
Rakhmadi menjelaskan, air merupakan penghantar listrik yang sangat berbahaya bagi keselamatan petugas jika mengenai kabel yang terkelupas akibat api.
Hal inilah yang menyebabkan petugas terkadang terlihat menyemprotkan air dengan metode terputus-putus atau menunggu sejenak demi kewaspadaan terhadap ancaman sengatan listrik.
Selain masalah teknis kelistrikan, jenis bahan yang terbakar juga sangat memengaruhi kecepatan pemadaman.
Jika bangunan mengandung bahan kimia atau BBM, penanganannya akan jauh lebih sulit dibandingkan bangunan biasa.
Rakhmadi juga tidak menampik saat ini pihaknya masih kekurangan peralatan krusial, seperti Alat Pelindung Diri (APD) serta jumlah personel yang sangat terbatas, di mana hanya tersedia 7-8 petugas per shift.
“Kalau ada kejadian kita semua akan turun ke lapangan,” singkatnya.
Kendala lain yang sering ditemui adalah kerumunan masyarakat yang menonton di lokasi kejadian.
Hal ini seringkali menghalangi pergerakan petugas dan kendaraan pemadam, terutama saat armada harus kembali ke markas untuk mengisi ulang tangki air.
Rakhmadi pun mengimbau masyarakat untuk memberikan ruang bagi petugas bekerja.
“Jadi imbauan kami kepada masyarakat agar jangan ditonton. Kalau mau bantu ya silakan. Tapi kendaraan-kendaraan tolong jauh,” tegasnya.
Saat ini, dua unit mobil damkar dilaporkan sedang mengalami kerusakan, menambah deretan tantangan operasional.
Meski demikian, Rakhmadi memastikan pemeliharaan rutin tetap diupayakan agar unit selalu siap siaga meski terkendala anggaran.
“Intinya juga sebenarnya ya dana juga kita masih kurang, jumlah personil juga kita kurang. Memang harus diperbaiki, kemudian harus ada pemeliharaan rutin,” pungkasnya. (*)
