BERAU TERKINI – Upaya pemberdayaan masyarakat berbasis hasil hutan bukan kayu terus menunjukkan hasil positif di Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan.

Melalui Program Kolaborasi Konservasi Hutan, produk gula aren lokal kini berkembang menjadi salah satu UMKM unggulan yang mampu menopang ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Koordinator Program Bidang Usaha, Nana, menjelaskan, pengembangan usaha gula aren dimulai sejak program hadir di Dumaring pada 2019.

Sebelum program dijalankan, pihaknya terlebih dahulu melakukan survei potensi ekonomi masyarakat yang dinilai bisa dikembangkan tanpa merusak hutan.

“Dulu masyarakat banyak bergantung pada hasil kayu dari hutan. Setelah program masuk, kami mencari potensi usaha yang sudah ada dan bisa dikembangkan agar masyarakat memiliki sumber penghasilan yang tetap menjaga kelestarian hutan. Salah satunya adalah gula aren,” ujarnya.

Menurut Nana, aren dipilih karena bahan bakunya melimpah dan masyarakat Dumaring memang memiliki kemampuan sebagai penghasil gula tradisional.

Awalnya masyarakat hanya memproduksi gula batang, namun dengan pendampingan dan pelatihan, produknya berkembang menjadi gula cair dan gula semut yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Yang sudah mereka kuasai sejak awal itu gula batang. Setelah itu di berikan pendampingan dari sisi kualitas, hingga pengembangan produk. Untuk gula semut sendiri perlu pelatihan khusus karena prosesnya lebih rumit,” jelasnya.

UMKM ini berada di bawah Kelompok Usaha Arenga Juru yang merupakan bagian dari kelompok perhutanan sosial di bawah lembaga pengelola hutan desa. 

Kelompok tersebut resmi berjalan sejak 2021 dan kini mengelola administrasi serta pengembangan usaha tiga penggula aktif di Dumaring.

Setiap hari para penggula memproduksi gula sesuai kondisi nira dan permintaan pasar.

Dalam satu hari, produksi bisa mencapai sekitar 11 kilogram gula batang dari 30 liter nira.

Selain gula batang, mereka juga memproduksi gula cair hingga gula semut sesuai kebutuhan pasar.

“Sekarang permintaan tidak hanya dari masyarakat umum, tapi juga dari cafe. Bahkan ada cafe yang rutin memesan sampai 100 gula batang setiap bulan,” katanya.

Nana menambahkan, pemasaran produk kini semakin berkembang berkat pemanfaatan media sosial dan keberadaan Rumah Kreasi Dumaring yang menjadi pusat promosi produk lokal. 

Pendampingan juga terus dilakukan, mulai dari legalitas usaha, kemasan produk, hingga strategi pemasaran.

Dari sisi harga, gula batang dijual Rp15 ribu per keping, gula cair Rp40 ribu per botol, dan gula semut Rp35 ribu per kemasan 250 gram.

Produk gula aren Dumaring juga beberapa kali mengikuti lomba tingkat provinsi sebagai produk unggulan desa dan berhasil meraih prestasi.

Meski demikian, tantangan keberlanjutan usaha masih menjadi perhatian, terutama regenerasi penggula.

Saat ini sebagian besar pengrajin berusia di atas 40 tahun, sehingga program mulai mendorong keterlibatan generasi muda melalui berbagai pelatihan.

“Kami ingin anak-anak muda mulai tertarik melanjutkan usaha ini supaya tetap berkelanjutan. Karena potensi gula aren Dumaring ini sangat besar,” tambahnya.

Selain pendampingan usaha, penanaman pohon aren juga dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku. 

Bahkan, sebelumnya kelompok telah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah sekitar 2.000 bibit aren untuk dikembangkan di kawasan Dumaring.

Sementara itu, dukungan terhadap pengembangan UMKM lokal juga terus diperkuat melalui sinergi berbagai pihak, termasuk dukungan fasilitas produksi dan pengembangan kapasitas usaha.

Langkah ini sejalan dengan upaya mendorong UMKM berbasis potensi lokal agar mampu berkembang lebih profesional dan berdaya saing. (*/Adv)