BERAU TERKINI — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau terus berinovasi dalam menyatukan seluruh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang ada di Bumi Batiwakkal.

Selain menyelenggarakan lomba Pokdarwis sebagai pengelola desa wisata yang berfokus pada konsistensi dan administrasi, Disbudpar juga memiliki agenda besar lainnya, yaitu Jambore Pokdarwis.

Berbeda dengan lomba formal, jambore ini dirancang sebagai ruang interaksi yang lebih santai namun tetap sarat makna bagi para pelaku wisata.

Tujuan utama jambore ini sebagai wadah agar sesama pengelola wisata di Berau tetap saling terhubung dan solid. 

Meskipun di dalamnya terdapat kompetisi, suasana yang dibangun jauh lebih cair dan mengedepankan aspek kebersamaan serta kegembiraan antarpeserta.

“Untuk seru-seruan supaya mereka tetap terhubung terus sama-sama saling memotivasi, saling menyemangati,” ungkap Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, kepada Berauterkini.

Selain sebagai ajang penyemangat, Jambore Pokdarwis juga menjadi sarana untuk saling mempromosikan destinasi masing-masing dan tempat belajar bersama melalui berbagai materi yang disiapkan.

Berbeda dengan lomba pengelola desa wisata yang pesertanya sangat terbatas karena aturan ketat, dalam jambore ini tidak ada batasan jumlah peserta, sehingga seluruh anggota kelompok dapat ikut berpartisipasi.

Fokus utama dalam perlombaan di ajang jambore ini adalah menonjolkan kreativitas masing-masing Pokdarwis. 

Mereka diberikan ruang seluas-luasnya untuk memperkenalkan produk unggulan serta potensi unik yang dimiliki kampung mereka dengan cara yang menarik.

“Lombanya tidak kita batasi, jadi kalau yang jambore itu lombanya itu lebih kepada kreativitas,” lanjutnya.

Perbedaan mendasar antara kedua kegiatan ini terletak pada alur dan regulasinya.

Lomba Pokdarwis pengelola desa wisata memiliki alur yang sangat terstruktur karena harus mengikuti Petunjuk Teknis (Juknis) dari tingkat provinsi hingga nasional.

Sementara, jambore ini murni menjadi inisiatif daerah untuk menjaga api semangat para pengelola di lapangan.

“Itu tanpa dibatasi, jadi yang satu buat seru-seruan supaya mereka tambah semangat,” pungkasnya. (*)