BERAU TERKINI — Program Sigap Sejahtera kembali mengadakan pelatihan bagi petani kakao aktif di sejumlah kampung di Kabupaten Berau.
Kegiatan ini mengusung tema peningkatan produktivitas serta kualitas kakao melalui peremajaan tanaman dan teknologi fermentasi.
Pelatihan tersebut melibatkan perwakilan petani dari Kampung Batu Rajang, Kecamatan Segah, serta Kampung Long Duhung dan Long Keluh, Kecamatan Kelay.
Project Coordinator Program Sigap Sejahtera, Hamzah Nasir, menjelaskan, program ini merupakan hasil kolaborasi luas berbagai pihak.

Kemitraan ini melibatkan pemerintah daerah, Yayasan Dharma Bakti Berau Coal, serta beberapa lembaga non-pemerintah.
Fokus utamanya adalah mendukung program unggulan pemerintah daerah dalam mengembangkan komoditas kakao di Bumi Batiwakkal.
“Ini program kolaborasi yang kita fokusnya mendukung program pemerintah daerah, yaitu pengembangan komoditas kakao di Kabupaten Berau,” ungkap Hamzah.
Program pengembangan ini memiliki dua skema utama, yaitu perluasan tanam baru serta rehabilitasi atau peremajaan tanaman.
Saat ini, perluasan lahan kakao sedang masif dilakukan di wilayah Teluk Bayur hingga pesisir Kelay.
Sigap Sejahtera juga memberikan pendampingan lapangan khusus yang berfokus pada teknik intensifikasi lahan.
Petani diedukasi untuk kembali merawat lahan kakao yang sebelumnya terbengkalai agar kembali produktif.

Petani didorong untuk menerapkan pola pengeringan modern menggunakan teknologi solar dryer dan proses fermentasi.
Edukasi ini bertujuan agar petani memahami bahwa kualitas biji kakao terbaik hanya didapat melalui fermentasi.
Pelatihan ini juga didukung dengan bantuan alat berupa kotak fermentasi serta rumah pengeringan bagi kelompok tani.
“Kita hari ini bagaimana memberikan edukasi bahwa proses pengeringan untuk mendapatkan kualitas biji kakao kering yang baik itu melalui fermentasi,” jelasnya.
Peningkatan kualitas melalui fermentasi secara otomatis akan menaikkan harga jual biji kakao di pasaran.
Harga kakao berkualitas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biji kakao yang dikeringkan secara konvensional atau asalan.
Kakao juga dinilai lebih ramah bagi tenaga kerja lansia serta ibu-ibu dibandingkan dengan perkebunan sawit.
Hal ini memungkinkan masyarakat dengan lahan terbatas tetap bisa meningkatkan perekonomian keluarga mereka.
“Jadi kalau kualitas dan produktivitasnya meningkat, harga juga pasti meningkat, pasti beda dengan harga beli dari yang asalan,” ujarnya.
Saat ini, sudah tersedia penampung resmi bagi hasil panen petani, yakni Berau Cocoa dan PT KASS.
Keberadaan pembeli tetap ini menjamin rantai pasar serta kepastian pendapatan bagi para petani lokal di Berau.
Berau sendiri dikenal sebagai salah satu penyumbang biji kakao dengan kualitas terbaik di tingkat nasional.
Melalui program ini, masyarakat diharapkan semakin termotivasi untuk mengembangkan kakao sebagai produk unggulan daerah.
Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lainnya sangat diperlukan untuk menjaga momentum ini.
Seluruh pihak diharapkan terus mendorong perluasan lahan serta menjaga rantai pasar agar tetap stabil.
Dukungan infrastruktur dan teknologi menjadi kunci utama agar manfaat ekonomi kakao dapat dirasakan masyarakat luas.
“Kita minta komitmen pemerintah daerah dan seluruh stakeholder terkait agar bisa menjaga rantai pasar yang ada,” tandas Hamzah. (Adv)
