BERAU TERKINI – Di tengah upaya mendorong ekonomi berkelanjutan, langkah nyata terus dilakukan PT Berau Coal. 

Melalui program Sekolah Lapang, perusahaan ini tak sekadar memberi pelatihan, tetapi menanam harapan baru bagi masa depan ekonomi masyarakat kampung.

Terbaru, pada 8–9 April 2026, Sekolah Lapang Budidaya Kakao digelar di kebun percontohan Kampung Samburakat. 

Sebanyak 18 petani kakao pemula dari berbagai wilayah. 

Mulai dari Maluang, Tanjung Redeb, Teluk Bayur hingga Sambakungan dan Gunung Tabur, turut ambil bagian.

Program Sekolah Lapang yang digelar PT Berau Coal, beberapa waktu lalu.
Program Sekolah Lapang yang digelar PT Berau Coal, beberapa waktu lalu.

Mereka datang dengan satu tujuan: belajar, berkembang, dan membuka peluang usaha baru dari komoditas kakao. 

Community Base Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan, menegaskan, program ini bukan sekadar pelatihan biasa.

Program ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi masa pascatambang.

“Ini upaya perusahaan untuk memberdayakan masyarakat, sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi dengan menjadikan kakao sebagai salah satu sektor penopang masa depan Berau,” ujarnya.

Melalui pendekatan Good Agricultural Practices (GAP), para peserta tidak hanya dibekali teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan. 

Mereka diajarkan cara budidaya kakao yang baik dan benar, mulai dari penanaman hingga perawatan, guna menghasilkan produk berkualitas dengan produktivitas optimal.

Tak berhenti di situ, dukungan nyata juga diberikan.

PT Berau Coal menyalurkan berbagai sarana produksi, seperti bibit kakao bersertifikat, pupuk, kompos, dolomit, hingga tanaman penaung.

Sebuah paket lengkap untuk memulai usaha dari nol.

Program ini turut melibatkan SIGAP (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan), inisiatif Pemerintah Kabupaten Berau, yang berperan dalam menjaring peserta serta melakukan pendampingan intensif di lapangan.

Kaur Umum Kampung Samburakat, Rina Susilowaty, menyambut baik program tersebut. 

Ia menilai, kehadiran Sekolah Lapang memberi dorongan besar bagi masyarakat untuk lebih serius mengembangkan sektor pertanian.

“Ini kesempatan yang sangat baik. Kami berharap masyarakat bisa memaksimalkan pelatihan ini,” tuturnya.

Bagi para peserta, manfaatnya terasa langsung.

Hartati, salah satu petani pemula, mengaku metode pembelajaran yang menggabungkan teori dan praktik membuat materi lebih mudah dipahami.

“Hari pertama teori, hari kedua langsung praktik. Jadi lebih cepat mengerti,” ujarnya.

Ia pun optimistis kakao bisa menjadi peluang usaha menjanjikan ke depan.

“Semoga semakin banyak masyarakat yang tertarik menanam kakao,” tambahnya.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Kepala Bidang Pembinaan Sumber Daya Perkebunan, Heni Risnawati, mengungkapkan, kakao Berau telah masuk dalam jajaran 10 cokelat terbaik di Indonesia dan diminati pasar internasional.

Dengan potensi tersebut, ditambah pendampingan dari hulu ke hilir yang dilakukan PT Berau Coal, peluang petani untuk berkembang semakin terbuka lebar.

“Pendampingan ini adalah kesempatan besar. Tinggal bagaimana semangat petani dijaga hingga panen nanti,” ujarnya.

Dari kebun percontohan di Samburakat, benih-benih kemandirian itu kini mulai tumbuh, menjanjikan masa depan ekonomi yang lebih kuat, bahkan jauh setelah tambang tak lagi beroperasi. (*/Adv)