BERAU TERKINI — Ancaman virus campak masih membayangi kesehatan masyarakat di Kabupaten Berau dalam beberapa waktu terakhir.

Dinas Kesehatan Berau mengidentifikasi, sebagian besar kasus yang muncul berkaitan erat dengan status vaksinasi pasien yang belum lengkap atau bahkan tidak mendapatkan imunisasi sama sekali.

Kepala Dinas Kesehatan Berau, Lamlay Sarie, menegaskan, kelompok yang tidak divaksin memiliki kerentanan yang sangat tinggi terhadap penularan.

Meskipun individu yang sudah divaksin tetap memiliki peluang kecil untuk terpapar, risiko tingkat keparahan dan komplikasi bagi mereka yang belum mendapatkan vaksinasi jauh lebih berbahaya.

“Campak itu masih ada, karena itu kebanyakan menyerang yang memang sama sekali orang tuanya yang enggak mau anaknya divaksin,” ujar Lamlay.

Menanggapi adanya temuan kasus di mana pasien dinyatakan sembuh sebelum hasil tes laboratorium keluar, Lamlay menjelaskan, hal tersebut merupakan praktik medis yang lazim.

Penentuan status kesembuhan seringkali didasarkan pada pengamatan fisiologis secara langsung oleh tenaga medis profesional.

Dokter akan melakukan observasi mendalam terhadap kondisi fisik pasien, mulai dari perubahan pada permukaan kulit, kondisi mulut, hingga stabilitas suhu tubuh.

Jika indikator fisik tersebut menunjukkan perbaikan yang signifikan, maka pasien dapat dinyatakan sembuh secara klinis.

“Kalau dokter itu kan dia misalkan ada pengamatan secara fisis. Misalkan permukaan kulit, permukaan mulut, permukaan suhu tubuh,” jelasnya.

Meski pengamatan fisik sangat membantu, Lamlay menekankan, peran fasilitas pendukung seperti laboratorium sangat krusial dalam dunia kedokteran modern.

Deteksi penyakit yang lebih akurat memerlukan bantuan teknologi medis untuk melihat kondisi internal tubuh pasien secara mendalam.

Bagi pasien yang mengalami keluhan terkait fungsi paru-paru sebagai dampak lanjutan, penggunaan sinar X dan rontgen menjadi prosedur wajib.

Sementara untuk kasus campak, pengujian sampel melalui pemeriksaan bakteriologi di laboratorium tetap menjadi standar emas dalam memastikan jenis virus yang menyerang.

“Memang biasanya makanya dokter-dokter sekarang kan harus didukung misalnya dengan lab. Kalau kaitannya dengan paru-paru radiologi, rontgen. Kalau misalkan campak, biasanya memang dia pemeriksaan bakteriologi di lab,” pungkasnya. (*)