BERAU TERKINI – Jalan terjal dan jarak tempuh yang jauh tak menyurutkan langkah tim SIGAP Sejahtera Berau dalam mendampingi masyarakat mengembangkan potensi pertanian kakao di sejumlah kampung.

Pendampingan tersebut menyasar delapan kampung di Kecamatan Sambaliung, Teluk Bayur, dan Tabalar, yakni Kampung Pilanjau, Buyung-Buyung, Suaran, Sei Bebanir Bangun, Rantau Panjang, Inaran, Bena Baru, dan Tumbit Melayu.

Koordinator Kecamatan SIGAP Sejahtera Berau, Asnar, bersama delapan Fasilitator Kampung, yakni Andini, Ulfiana, Suhardi, Laras, Arief, Alisa, Yohana, dan Maria, terus bergerak memastikan pendampingan berjalan optimal.

Di lapangan, mereka tidak hanya melakukan kunjungan, tetapi juga monitoring dan evaluasi untuk melihat perkembangan budidaya kakao, mengidentifikasi calon petani baru, serta mengetahui kendala yang dihadapi masyarakat.

Upaya SIGAP Sejahtera dampingi petani kakao di Kabupaten Berau.
Upaya SIGAP Sejahtera dampingi petani kakao di Kabupaten Berau.

“Hingga saat ini, tercatat sebanyak 62 petani telah bergabung dalam program pendampingan tematik kakao SIGAP Sejahtera Berau,” kata Asmar, Jumat (6/11/2026). 

Antusiasme masyarakat pun mulai meningkat. Tidak hanya petani yang ingin merehabilitasi tanaman kakao, tetapi juga warga yang tertarik memulai budidaya sebagai peluang usaha pertanian.

Meski begitu, beberapa calon petani terkendala persyaratan administrasi, terutama dokumen kepemilikan lahan untuk memperoleh bantuan. 

Kondisi cuaca kemarau juga menjadi tantangan dalam mempersiapkan lahan dan melakukan penanaman.

“Kami juga terus melakukan monitoring untuk mengetahui perkembangan petani sekaligus mengidentifikasi masyarakat yang berminat mengembangkan kakao,” paparnya. 

Dukungan pengembangan kakao juga diperkuat melalui bantuan bibit yang disalurkan dengan dukungan salah satu perusahaan tambang di Berau.

Selain bibit, petani turut menerima sarana pendukung berupa kompos dan dolomit. 

Sejumlah petani bahkan mulai melakukan persiapan lahan dari pembersihan, pembuatan lubang tanam, hingga penanaman bibit kakao.

Melalui pendampingan tersebut, SIGAP Sejahtera Berau berharap pengembangan kakao, dapat semakin diminati masyarakat dan menjadi salah satu sumber ekonomi berkelanjutan di tingkat kampung.

Bagi para pendamping, tantangan perjalanan menuju kampung bukan menjadi penghalang untuk terus hadir di tengah masyarakat.

“Keberhasilan program ini bukan hanya tentang menjangkau wilayah terpencil. Tetapi juga bisa memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkas Asnar. (*)