BERAU TERKINI – Polemik terkait kekosongan obat di RSUD dr Abdul Rivai akhirnya mendapat penjelasan langsung dari pihak menajemen.

Direktur RSUD dr Abdul Rivai, Jusram, mengatakan, persoalan kekosongan obat tersebut hanya terjadi sementara dan tidak sampai mengganggu pelayanan medis secara menyeluruh.

Jusram mengakui, pada awal Januari 2026 memang terdapat sejumlah item obat yang kosong.

Namun, kondisi itu segera diantisipasi, terutama untuk obat-obatan yang bersifat darurat.

“Memang ada beberapa obat yang kosong di minggu pertama Januari. Tapi untuk obat emergency sebagian besar tetap tersedia karena kami sudah lakukan mitigasi,” ungkap Jusram saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/4/2026).

“Kekosongan yang ada juga bisa kami atasi dengan obat generik, sehingga pelayanan tetap berjalan,” sambungnya.

Ia menjelaskan, pihak rumah sakit langsung bergerak cepat dengan memanggil seluruh vendor atau pemasok obat untuk mencari solusi.

Dari hasil pertemuan tersebut, diketahui keterlambatan pembayaran menjadi salah satu penyebab terhambatnya suplai obat.

“Dari pihak vendor menyampaikan ada tunggakan yang belum terbayar. Tapi mereka juga mengakui, proses penagihan dari mereka sendiri terlambat, sehingga berdampak pada keterlambatan pembayaran dan akhirnya suplai dibatasi,” jelasnya.

Meski demikian, hubungan kerja sama antara RSUD dan para vendor tetap terjaga.

Bahkan, para pemasok masih memberikan kepercayaan kepada pihak rumah sakit untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran secara bertahap.

“Alhamdulillah, sampai saat ini kami sudah membayar sebagian besar dari total tunggakan Rp10 miliar, dan kini hanya sekitar Rp2 miliar atau Rp3 miliar,” katanya.

Jusram menegaskan, kondisi kekosongan obat tersebut hanya berlangsung singkat dan telah lama teratasi.

Saat ini, suplai obat di RSUD dr Abdul Rivai disebut sudah kembali normal.

“Ini sebenarnya bukan masalah besar, karena bisa langsung kami atasi. Suplai obat sekarang sudah berjalan normal,” tegasnya.

Jusram juga menyoroti adanya kesalahpahaman informasi di masyarakat yang dinilai berdampak pada menurunnya kepercayaan terhadap layanan rumah sakit.

Menurutnya, kabar yang tidak utuh membuat sebagian masyarakat enggan berobat lebih awal.

“Yang kami lihat sekarang, pasien datang ketika kondisinya sudah benar-benar gawat. Padahal kalau datang lebih cepat, potensi sembuhnya sangat besar. Ini karena masyarakat terdistraksi dengan berita negatif,” tuturnya.

Pihaknya berharap masyarakat tidak ragu untuk memanfaatkan layanan kesehatan di RSUD dr Abdul Rivai dan dapat mengakses informasi yang benar agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.

“Kami juga membuka layanan pengaduan di RSUD dan itu kami selalu tindaklanjuti,” pungkasnya. (*)