BERAU TERKINI – Pemerintah Singapura menghadapi dengan santai langkah Indonesia yang memotong pasokan gas.

Indonesia secara resmi mengurangi pasokan gas untuk Singapura. Pengumuman itu disampaikan langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Di tengah kondisi itu, pemerintah Singapura mengaku langkah Indonesia itu tak terlalu berdampak bagi kebutuhan energi di dalam negeri Singapura.

Dilansir laporan The Straits Times, Menteri Energi dan Industri Singapura, Tan See Leng menyebut, pihaknya juga menyiapkan sejumlah langkah demi memastikan kebutuhan domestik terpenuhi.

Menurutnya, kerja sama dengan negara lain, hingga pembangunan fasilitas energi terbarukan seperti energi nuklir menjadi opsi yang dipertimbangkan.

“Kami harus memastikan ketahanan energi, di saat yang sama kami juga ingin meningkatkan energi ramah lingkungan,” ujar Tan See Leng dikutip laporan The Straits Times.

“Saat ini memang kami belum akan membangun energi nuklir, namun perkembangan dunia hari ini energi nuklilr diperlukan dan kami siap untuk mengembangkan itu,” jelasnya.

Lebih jauh, pihaknya memastikan akan menempuh berbagai upaya agar kebutuhan energi domestik di Singapura bisa terpenuhi.

“Saya katakan berulang kali, semua upaya akan kami lakukan demi memenuhi kebutuhan energi,” ucapnya.

Ilustrasi aktivitas kilang migas offshore (esdm.go.id)
Ilustrasi aktivitas kilang migas offshore (esdm.go.id)

Potong Pasokan Gas

Sebelumnya diberitakan, Indonesia resmi memotong pasokan gas ke Singapura. Pemotongan pasokan gas itu disebut berkaitan dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan domestik.

Menteri ESDM yang juga Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyebut total pasokan gas yang dipotong ke Singapura hanya 31 juta kaki kubik.

“Saya ingin menyampaikan bahwa total gas yang kita kirim, ke negara sahabat kita,” kata Bahlil Lahadalia dikutip dari konferensi pers Kementerian ESDM, Senin (26/10/2026).

Angka itu disebut masih kecil dibanding keseluruhan kontrak pasokan gas dari Indonesia ke Singapura yang menyentuh angka 400 juta kaki kubik.

“Dari dua tempat, satu dari laut, satu dari Sumatera, itu totalnya sebesar 490,55 MM yang kemarin kita potong itu adalah 31 MM hanya kurang lebih sebesar 8 persen,” katanya.

“Saya membaca berita 31 MM itu ternyata hanya 2 persen, jadi kalau 409 MM itu berapa persen itu? kurang lebih sebesar 30 persen,” jelasnya.

Bahlil Lahadalia menjelaskan, pemotongan pasokan gas ke Singapura tak menyalahkan kontrak atau perjanjian dua negara.

Sebab besaran pemotongan pasokan gas itu masih jauh di batas minimum sesuai kontrak yang disepakati.

Konferensi pers Kementerian ESDM (YouTube/Kementerian ESDM)
Konferensi pers Kementerian ESDM (YouTube/Kementerian ESDM)

“Tapi atas arahan bapak presiden, negara kita adalah negara yang menghargai aturan, kontrak. 31 MM yang kita potong itu adalah masih di batas kontrak minimum,” katanya.

Dia menjelaskan, pemotongan pasokan gas itu berkaitan dengan pemeliharaan jaringan serta kebutuhan untuk pasar domestik.

Meski demikian, Bahlil Lahadalia tak menampik hubungan Singapura dan Indonesia yang tengah berpolemik di tengah penanganan kasus karhutla.

“Pemerintah Indonesia sangat mengharagai aturan, tapi saya juga minta, jangan suatu saat minta dihargain tapi senang mengolok-olok negara lain, bagaimana itu, jadi di sinilah asas kebersamaan kita,” katanya.

“Jadi kita harus equal treatment, Indonesia ini terlalu baik, menghargai juga hubungan antarnegara. Jadi saling menghargailah,” ujarnya.