BERAU TERKINI – Pameran seni rupa bertajuk “Serak Sorai” resmi digelar di Atara Studio sejak 18 hingga 28 April mendatang.

Pameran ini menghadirkan karya dari sepuluh seniman yang mengangkat tema pengalaman hidup yang berlapis dan tidak pernah sepenuhnya utuh.

Pemimpin Produksi Pameran “Serak Sorai”, Seto Kumoro, menyebut pameran ini menjadi ruang bagi publik untuk membaca ulang pengalaman sehari-hari yang kerap luput dari perhatian.

“Pengalaman hidup itu tidak hanya yang kita alami langsung, tetapi juga yang kita ingat, dengar, bahkan bayangkan. Semua itu saling bertumpuk dan membentuk cara kita memahami realitas,” ujarnya.

Menurutnya, melalui pendekatan tersebut, pameran ini mencoba melihat tubuh bukan sebagai subjek yang mengalami, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan berbagai jejak dari perubahan lingkungan.

“Perubahannya memang tidak selalu terlihat secara kasat mata. Ada yang sifatnya halus, tapi berdampak pada cara kita merasakan dan merespons ruang di sekitar,” jelasnya.

Karya-karya yang ditampilkan juga merefleksikan pergeseran ruang hidup, seperti ruang yang hilang, berubah fungsi, atau tidak lagi dapat diakses.

Kondisi itu turut memengaruhi pengalaman batin hingga relasi sosial masyarakat.

“Ketika ruangnya berubah, ada dampak yang ikut kita rasakan. Tidak hanya secara fisik, tapi juga secara emosional dan sosial,” katanya.

Dalam pameran ini, pengunjung juga diajak melihat adanya ketegangan yang terus terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai keterlibatan dan jarak, hingga kesadaran dan ketidaksadaran.

“Posisi kita sebagai individu sering kali tidak benar-benar jelas. Kita bisa berada dalam sistem yang sama yang kita pertanyakan, tapi di saat yang sama juga mencoba memahami dan meresponsnya,” tambah Seto.

Selain itu, Serak Sorai juga membuka ruang untuk melihat praktik keseharian sebagai bentuk pengetahuan. 

Aktivitas yang tampak sederhana dinilai menjadi cara individu bertahan dan memahami lingkungannya.

Lebih jauh, pameran ini menghadirkan beragam suara yang tidak selalu selaras.

Namun justru dari perbedaan tersebut publik diajak untuk lebih peka terhadap hal-hal yang selama ini terlewat.

“Sebenarnya bukan sekadar pameran, tapi ajakan untuk berhenti sejenak, melihat ulang posisi kita, dan membayangkan kemungkinan lain dalam berelasi dengan ruang,” ujarnya.

Adapun seniman yang terlibat dalam pameran ini di antaranya Abdhi Avvangga, An Nisaa Damayanti, Arifuddin, Kinu, Novi Setiawati, Ridho Saputra, Rox, Seto Kumoro, Spik Putro, dan Vany Ellen.

Pameran ini juga menjadi bagian dari praktik komunitas seni rupa TanaRuai dalam merespons dinamika sosial dan budaya di Berau. (*)