BERAU TERKINI – Penayangan film alternatif Tepi Layar #5 kembali digelar oleh Tepian Kolektif dengan konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Program yang telah memasuki penyelenggaraan kelima ini bukan hanya menghadirkan lebih banyak film, tetapi juga memperluas ruang diskusi agar masyarakat semakin akrab dengan karya-karya sinema nonarus utama.

Anggota Tepian Kolektif, Azwar Ahmad, mengatakan, Tepi Layar bukanlah program yang mengejar jumlah penonton ataupun dampak yang diukur melalui angka. 

Baginya, yang jauh lebih penting adalah menciptakan ruang agar masyarakat bisa menonton, berbincang, dan saling bertukar perspektif.

WhatsApp Image 2026 07 29 at 12.56.27

“Capaiannya bukan angka. Apa artinya ramai kalau tidak membekas? Yang ingin kami bangun adalah ruang yang terbuka untuk menonton lalu ngobrol bersama. Dari situ pertanyaan bisa muncul dan itu sudah menjadi pencapaian bagi kami,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Tepi Layar telah berjalan selama lima tahun dengan satu seri setiap tahunnya. 

Menurutnya, proses penyelenggaraannya tidak sederhana karena seluruh anggota Tepian Kolektif memiliki pekerjaan masing-masing, sehingga persiapannya dilakukan berbulan-bulan.

Tahun ini menjadi penyelenggaraan yang berbeda dibanding seri-seri sebelumnya. 

Jika biasanya hanya menayangkan satu film di satu lokasi, Tepi Layar #5 berlangsung selama dua hari di dua venue berbeda dengan total sepuluh film berdurasi beragam.

“Sebenarnya kegiatan ini juga menjadi kolaborasi perdana bersama Aliansi Layar Terjal (ALT),” terangnya.

Azwar mengatakan, film-film yang diputar bukanlah film komersial yang umum dijumpai di bioskop.

Sebaliknya, Tepi Layar menghadirkan karya-karya eksperimental, video art, hingga film-film yang lebih sering beredar di ruang festival.

“Selama ini masyarakat lebih mengenal film sebagai hiburan, seperti drama atau box office. Padahal dunia sinema jauh lebih luas. Ada karya-karya yang menawarkan bentuk, struktur, dan cara bercerita yang berbeda. Itu yang ingin kami hadirkan di Tepi Layar,” jelasnya.

Menurutnya, karya-karya tersebut memang tidak selalu mudah dipahami dalam sekali tonton. 

Namun, justru dari situlah ruang diskusi menjadi penting karena setiap orang bebas memaknai film sesuai pengalaman masing-masing.

“Kami tidak memaksakan semua orang harus mengerti. Bahkan pertanyaan sederhana seperti ‘film tadi sebenarnya tentang apa?’ sudah menjadi awal diskusi yang baik. Semakin banyak pertanyaan muncul, semakin hidup obrolannya,” katanya.

WhatsApp Image 2026 07 29 at 12.56.26

Lebih jauh, Azwar menegaskan tujuan utama Tepi Layar adalah membangun budaya menonton dan mengapresiasi karya, bukan mengarahkan penonton pada satu kesimpulan tertentu.

“Refleksi setelah menonton itu bebas. Mau merasa bingung, terinspirasi, atau bahkan mengantuk pun tidak masalah. Yang paling penting adalah orang mau datang, menonton, lalu membuka diri untuk berdialog,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti isu-isu yang diangkat dalam Tepi Layar selama ini berasal dari kehidupan yang dekat dengan masyarakat, tetapi jarang mendapat ruang dalam media populer.

Mulai dari relasi manusia dengan sungai, tradisi lokal seperti Maladup, hingga cara pandang masyarakat terhadap buaya dan berbagai persoalan sosial lainnya.

“Isu pinggiran yang kami maksud bukan karena tidak penting, justru karena penting tetapi jarang dibicarakan. Film menjadi medium untuk membuka percakapan tentang hal-hal yang selama ini luput dari perhatian,” tutup Azwar. (*)