Oleh: Tasya Shandha – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
BERAU TERKINI – Kabupaten Berau menjadi salah satu daerah paling terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur sepanjang 2026. Musim kemarau panjang tahun ini disebut-sebut sebagai yang terparah dalam lima tahun terakhir.
Secara keseluruhan, karhutla di Kalimantan Timur sejak Januari-September 2026 telah membakar sekitar 5.708,96 hektare lahan. Pada periode 1-25 Agustus 2026, Dinas Kehutanan Kalimantan Timur mencatat penanganan karhutla seluas 572,83 hektare, dengan rincian 265,54 hektare di kawasan hutan dan 307,3 hektare di area penggunaan lain (APL).
Berau tercatat sebagai salah satu kabupaten dengan luasan cukup signifikan. KPHP Berau Utara mencatat 86,6 hektare terbakar di kawasan hutan produksi dan 96,7 hektare di APL.
Sementara, KPHP Berau Barat mencatat 6 hektare di hutan produksi dan 49,5 hektare di APL. KPHP Berau Tengah mencatat 9,3 hektare di hutan produksi serta 23,1 hektare di APL.
Pada pertengahan Agustus 2026, laporan media menyebut sebanyak 426 titik panas terdeteksi di Kabupaten Berau.

Sebagian besar kejadian di Kalimantan Timur, termasuk Berau, disebabkan oleh faktor manusia. Menurut BPBD, rata-rata luas kebakaran per kejadian masih di bawah 5 hektare dengan penyebab utama kelalaian manusia.
Kondisi ini diperburuk oleh musim kemarau yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan.
Data BMKG pada Agustus 2026 menunjukkan sebagian wilayah Kalimantan Timur memiliki curah hujan dengan intensitas rendah.
Berau dan Mahakam Ulu termasuk wilayah yang memiliki potensi hujan dengan intensitas normal, meskipun kekeringan ini diperkirakan berlanjut hingga November.
Salah satu perusahaan perkebunan sawit di Berau, PT Yudha Wahana Abadi, mencatat 37 insiden kebakaran di sekitar area konsesinya sepanjang 2026. Kejadian paling parah terjadi pada 12 Agustus yang menghanguskan sekitar 10 hektare lahan.
Tingkat keparahan karhutla tahun ini mendapat perhatian nasional. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyebut karhutla 2026 lebih parah dibanding periode El Niño 2019 maupun 2023.
Secara nasional, total luas yang terbakar mencapai 202.004 hektare per Juli 2026 atau jauh melampaui 137.007 hektare pada 2019 dan 92.924 hektare pada 2023.
Merespons situasi ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menetapkan status siaga darurat kekeringan dan karhutla hingga 30 November 2026 melalui keputusan gubernur.
Pada akhir Agustus, Menteri Kehutanan kemudian meninjau lokasi di Berau sembari melakukan kunjungan kerja untuk melihat langsung penanganan karhutla, kesiapan personel di Posko Karhutla, serta kondisi lokasi kebakaran di Berau.
BNPB juga mengerahkan dukungan besar untuk Kalimantan Timur, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC) khusus di Berau, dengan total 4.068 personel gabungan yang terlibat dalam operasi darat dan udara serta distribusi 47 tangki air.
Karhutla di Berau mencerminkan pola yang lebih luas di Kalimantan Timur tahun ini, yakni kombinasi kemarau ekstrem dan kelalaian manusia yang menyebabkan bencana kebakaran terparah dalam lima tahun terakhir.
Meski penanganan sudah melibatkan satgas gabungan, teknologi pemantauan titik api, hingga modifikasi cuaca, status siaga darurat yang berlaku hingga akhir November menunjukkan risiko kebakaran diperkirakan masih akan berlanjut. (*)
