BERAU TERKINI – RSUD dr Abdul Rivai Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, saat ini telah memiliki tiga dokter spesialis jantung.

Jumlah tersebut dinilai sudah sangat ideal untuk menunjang operasional rumah sakit dengan klasifikasi tipe C.

Direktur RSUD dr Abdul Rivai, Jusram, menjelaskan, dari segi kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM), sektor pelayanan jantung sebenarnya sudah sangat siap. 

Namun, kendala utama yang dihadapi saat ini adalah pemenuhan fasilitas penunjang medis yang belum lengkap.

“Seharusnya cukup. Untuk rumah sakit kelas C itu sangat cukup,” ujar Jusram.

Direktur RSUD Abdul Rivai, Jusram. (Adrikni/BT)
Direktur RSUD Abdul Rivai, Jusram. (Adrikni/BT)

Jusram membeberkan, fasilitas rumah sakit saat ini baru mampu melayani pemeriksaan awal atau diagnosis. 

Sementara untuk tindakan penanganan secara intervensi, seperti pemasangan cincin jantung atau Percutaneous Coronary Intervention (PCI), RSUD dr Abdul Rivai belum bisa memenuhinya secara mandiri.

“Kami belum punya kemampuan untuk itu. Kami masih menunggu bantuan dari Kemenkes tahun depan,” ungkap Jusram.

Guna menyiasati kesiapan operasional masa depan, manajemen telah memberangkatkan salah satu dokter spesialis jantung mereka untuk menempuh pendidikan kedokteran lanjutan ke negara Cina.

Harapannya dokter spesialis jantung tersebut tahun depan sudah bisa kembali mengabdi di Bumi Batiwakkal.

Mengingat tingginya angka rujukan untuk tindakan intervensi jantung angiografi (PCI), Jusram menetapkan tiga program pelayanan medis yang kini menjadi prioritas utama rumah sakit.

Program prioritas pertama yakni pengembangan layanan cuci darah. 

Manajemen akan memanfaatkan eks gedung IGD lama menjadi ruang cuci darah baru guna menambah kuantitas mesin dalam waktu tiga bulan ke depan.

Program prioritas kedua yakni penyediaan layanan kemoterapi. 

Pihak rumah sakit saat ini tengah menanti kepulangan dokter spesialis yang sedang menempuh studi lanjut. 

Jusram berharap, bulan depan dokter tersebut sudah kembali untuk menyusun program pelaksanaan kemoterapi.

Sementara untuk program prioritas ketiga adalah pemenuhan layanan jantung intervensi. 

Manajemen mengupayakan kepulangan dokter yang sedang bersekolah di Cina agar berbarengan dengan tibanya gelontoran bantuan alat medis dari Kementerian Kesehatan pada tahun depan.

Urgensi pemenuhan alat intervensi ini kian mendesak mengingat tingginya fatalitas penyakit ini di daerah. 

Saat ini, kunjungan pasien rawat jalan di bagian poli jantung RSUD dr Abdul Rivai tercatat bisa mencapai 30 orang setiap harinya.

Untuk pasien dengan kondisi kritis yang membutuhkan penanganan medis tingkat lanjut, rumah sakit terpaksa harus mendistribusikan rujukan ke kota-kota besar di Kalimantan Timur.

“Kemudian pasien-pasien jantung yang kami harus melakukan tindakan lebih lanjut, kami rujuk ke Samarinda ataupun Balikpapan,” tutup Jusram. (*)