BERAU TERKINI – Menhut Raja Juli Antoni menyebut karhutla di Berau berpotensi teratasi berkat potensi awan hujan.

Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, menyebut Berau menjadi salah satu wilayah yang masih memiliki potensi awan hujan.

Potensi awan hujan ini berguna untuk mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan dalam upaya penanganan karhutla.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi keunggulan tersendiri di tengah fenomena El Nino yang saat ini menyebabkan banyak daerah di Indonesia mengalami kekeringan ekstrem dan minim pembentukan awan hujan.

“Tidak semua daerah memiliki awan yang bisa disemai. Kemarin saya dari Jambi, kondisi awan hujannya sangat terbatas. Di Kalimantan Barat sementara di Kalimantan Timur, khususnya Berau, masih terdapat potensi awan yang memungkinkan dilakukan penyemaian,” ujar Raja Juli Antoni.

Ia menjelaskan, keberhasilan operasi modifikasi cuaca sangat bergantung pada keberadaan awan hujan.

cf58acb7 e4ad 47aa a9ac c97a3fba1e60

Tanpa awan yang memadai, teknologi hujan buatan tidak dapat dijalankan secara optimal. Karena itu, daerah yang masih memiliki potensi pembentukan awan menjadi prioritas dalam pelaksanaan OMC.

Raja Juli juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi perubahan cuaca yang cukup signifikan.

Fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi lebih kuat dan lebih cepat dari siklus normalnya telah meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah.

“Biasanya siklus El Nino datang dalam rentang beberapa tahun, namun saat ini perubahan cuaca terlihat sangat nyata,” katanya.

“Dampaknya dapat dirasakan melalui meningkatnya suhu udara, berkurangnya curah hujan, serta tingginya potensi karhutla. Karena itu kita tidak boleh lengah,” tambahnya.

Dia memastikan pemerintah pusat terus memperkuat sinergi antar lembaga termasuk dengan pemda hingga perusahaan untuk menekan laju karhutla.

Selain pemadaman darat, upaya pencegahan juga dilakukan melalui sistem peringatan dini dan operasi modifikasi cuaca di wilayah yang masih memiliki potensi awan hujan.

Ia berharap seluruh pihak, termasuk masyarakat dan pelaku usaha, dapat ikut menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran lahan.

“Kondisi cuaca saat ini bukan musim kemarau biasa jadi kita perlu waspada agar kejadian karhutla besar seperti tahun 2015 tidak kembali terulang,” tutupnya.