BERAU TERKINI – Denting alat musik kulintangan kembali menggema di Pulau Maratua.
Di tengah pesatnya perkembangan budaya modern, Pemerintah Kabupaten Berau memilih langkah nyata dengan menyiapkan generasi muda sebagai penerus kesenian tradisional yang menjadi identitas masyarakat Bumi Batiwakkal.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Seni Musik Kulintangan di Pendopo Kantor Camat Maratua.
Puluhan peserta dari Kampung Bohe Silian, Teluk Harapan, Teluk Alulu, dan Payung-Payung mengikuti pelatihan yang melibatkan pelajar, sanggar seni, komunitas budaya, hingga masyarakat umum.
Pelaksana tugas Kepala Bidang Bina Nilai Budaya dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Nurjatiah, mengatakan pelatihan ini bukan sekadar mengajarkan cara memainkan alat musik tradisional.

Namun, juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya yang mulai jarang ditekuni generasi muda.
“Kulintangan bukan hanya alat musik tradisional, tetapi juga identitas budaya masyarakat Berau yang menyimpan nilai sejarah, kebersamaan, dan jati diri. Karena itu, kami ingin memastikan kesenian ini tetap hidup melalui regenerasi pemain-pemain muda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan didukung melalui APBD Berau 2026 pada Program Pengembangan Kesenian Tradisional.
Selama pelatihan, peserta dibimbing langsung oleh praktisi seni musik kulintangan, Sainah.
Pelajaran didominasi praktik hingga 80 persen agar peserta lebih cepat menguasai teknik memainkan alat musik.
Sementara, sisanya berupa materi teori mengenai sejarah kulintangan, struktur alat, teknik dasar, hingga pembagian peran dalam sebuah kelompok musik tradisional.
Di akhir kegiatan, seluruh peserta akan menampilkan hasil pembelajaran melalui pertunjukan bersama sebagai bentuk evaluasi kemampuan.
Disbudpar Berau menargetkan sedikitnya 33 peserta mampu memainkan aransemen lagu daerah menggunakan kulintangan.
Lebih dari itu, pelatihan ini diharapkan melahirkan kelompok-kelompok seni baru di setiap kampung di Kecamatan Maratua.
Sehingga, kesenian kulintangan tidak hanya dipelajari, tetapi juga terus dipentaskan dalam berbagai agenda budaya dan pariwisata.
“Untuk tindak lanjut, kecamatan kami dorong untuk menyusun proposal pengadaan perangkat alat musik kulintangan untuk mendukung aktivitas kelompok seni yang akan dibentuk,” terangnya.
Disbudpar Berau juga akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala agar proses regenerasi pelaku seni tradisional dapat berjalan secara berkelanjutan.
Melalui pelatihan tersebut, Disbudpar Berau ingin memastikan denting kulintangan tidak berhenti sebagai bagian dari masa lalu.
Melainkan terus hidup di tangan generasi muda sebagai simbol kebanggaan budaya Berau sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata berbasis budaya di Pulau Maratua. (*)
