BERAU TERKINI – Ketekunan dan semangat pantang menyerah menjadi kunci perjalanan Hestiah dalam membangun usaha kue rumahan.

Perempuan kelahiran 7 Maret 1974 asal Kabupaten Berau ini membuktikan, usaha yang dirintis dari dapur kecil di rumah mampu berkembang hingga produknya dipasarkan di berbagai toko, minimarket, hingga Bandara Kalimarau.

Usaha yang diberi nama Lasaku, singkatan dari “Sayangku”, berawal dari hobi membuat kue untuk keluarga. 

Sejak 2017, ia mulai memberanikan diri menjadikan hobinya sebagai sumber penghasilan dengan memproduksi bolu jadul, kemudian mengembangkan produk puding kering yang kini menjadi salah satu andalannya.

“Awalnya saya hanya suka membuat kue di rumah. Lama kelamaan saya mencoba menjualnya dan ternyata mendapat respons yang baik dari masyarakat,” ujar Hestiah.

WhatsApp Image 2026 07 11 at 14.25.54 e1783764742219

Dalam mengembangkan usahanya, Hestiah aktif mengikuti berbagai pelatihan kewirausahaan. 

Berkat keseriusannya, seluruh legalitas usaha kini telah dilengkapi, mulai dari perizinan usaha hingga sertifikasi yang dibutuhkan, sehingga produknya dapat dipasarkan secara lebih luas.

Saat ini, produk Lasaku yang telah memiliki izin lengkap adalah bolu jadul dan puding kering. 

Kedua produk tersebut dapat ditemukan di sejumlah toko, minimarket, gerai oleh-oleh, hingga area penitipan produk di Bandara Kalimarau.

Selain pemasaran secara langsung, Hestiah juga memanfaatkan media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp, untuk menjangkau pelanggan.

Meski demikian, untuk produk puding kering, dalam dua bulan terakhir stok di sejumlah toko sempat kosong karena produksi yang terbatas.

Di balik perjalanan usahanya, Hestiah juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. 

Selain persoalan membangun pasar dan memperkenalkan produk, kondisi kesehatannya menjadi ujian tersendiri.

Ia mengaku saat ini harus menyesuaikan kapasitas produksi setelah menjalani pemasangan ring jantung. 

Karena itu, seluruh proses produksi dilakukan sesuai kemampuan fisiknya agar tetap dapat menjaga kesehatan.

“Alhamdulillah, kalau kendala usaha sebenarnya aman-aman saja. Yang saya sesuaikan sekarang adalah kondisi kesehatan setelah pasang ring jantung, jadi produksi saya lakukan semampunya,” ungkapnya.

Meski aktivitas produksi tidak lagi sebanyak dulu, Hestiah tetap optimistis usahanya akan terus berkembang. 

Bersama sang suami, ia masih mempertahankan kualitas produk yang dibuat dengan resep rumahan, tanpa bahan pengawet dan tanpa pengembang.

Melalui Lasaku yang mengusung tagline “Resep Kasih Sayang, Rasa Kerinduan”, Hestiah berharap produk lokal Berau semakin dikenal masyarakat luas. 

Baginya, keberhasilan usaha bukan hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari kemampuan untuk terus berkarya, menjaga kualitas, dan menginspirasi pelaku UMKM lainnya agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan. (*/Adv)