BERAU TERKINI — Pemerintah memberikan solusi di tengah kenaikan harga bahan pokok yang terjadi di Kabupaten Berau saat ini.
Warga diharapkan bisa mencari solusi lain untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari secara mandiri.
Muncul dorongan kuat agar masyarakat mulai beralih ke pola konsumsi pangan alternatif. Langkah ini dinilai efektif untuk menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga di masa sulit.
Dorongan konsumsi alternatif ini datang dari Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, yang menyarankan warga untuk memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah mereka masing-masing.
Warga dapat menanam sayuran, singkong, atau mulai mencoba beternak ikan lele secara mandiri.
Menurut Sumadi, langkah tersebut dapat memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dengan memanfaatkan sumber daya sekitar.
Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Pangan Berau, Basri, menilai, pemanfaatan lahan merupakan opsi perpindahan komoditas pangan yang sangat tepat saat terjadi inflasi.
Langkah ini bisa menjadi solusi cerdas di tengah naiknya harga berbagai bahan pangan di pasar.
Substitusi kebutuhan protein dan karbohidrat sangat mungkin dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
“Artinya inflasi ini kan terkait beberapa komoditi. Mungkin salah satunya bidang perikanan, lele tadi kan bisa substitusi,” ujar Basri.
Basri menambahkan, masyarakat bisa mengganti sumber karbohidrat utama saat harga beras mulai naik.
Masyarakat dapat beralih ke sumber pangan lain yang lebih terjangkau, seperti mengonsumsi singkong secara rutin.
Singkong merupakan sumber karbohidrat yang baik dan tersedia cukup banyak di wilayah Kabupaten Berau.
“Kalau misalnya inflasi itu kita beras, naiknya ke beras, bisa beralih ke singkong,” ungkapnya.
Kabupaten Berau saat ini diketahui masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah.
Berdasarkan data yang ada, produk lokal hanya mampu mencukupi sekitar 40 persen kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, sebanyak 60 persen sisa pasokan pangan harus didatangkan dari wilayah di luar Berau.
Utamanya untuk kebutuhan beras, masyarakat masih sangat mengandalkan kiriman pasokan dari luar daerah.
Komoditas yang mengandalkan hasil lokal biasanya berupa sayuran segar yang mudah rusak di perjalanan.
Risiko layu dan busuk menjadi alasan utama mengapa sayuran hijau lebih banyak ditanam secara lokal.
Namun, beberapa jenis sayuran seperti kentang, kol, dan tomat terkadang masih tetap dipasok dari luar.
Pemerintah berharap kemandirian pangan lokal dapat terus ditingkatkan demi menekan angka ketergantungan tersebut.
“Tapi hampir rata-rata komoditi itu dari luar, kecuali mungkin sayuran,” tutup Basri. (*)
