BERAU TERKINI – Seorang pria berinisial LK yang pernah menjabat kepala desa di Kutai Barat, Kaltim, ditahan Polres Barito Utara atas pembantaian sadis.

Peristiwa sadis yang menewaskan lima orang korban itu terjadi di perbatasan Kaltim dan Kalimantan Tengah.

LK tak ditahan sendiri, terdapat dua pelaku lainnya berinisal VN dan SA yang menjadi bagian dari peristiwa berdarah tersebut.

Ketiga tersangka memiliki jalinan kekeluargaan, dimana LK merupakan pasangan dari SA.

Smeentara VN merupakan keluarga dari SA.

“Saat ini masih dalam proses pengembangan,” ujar Kapolres Barito Utara, AKBP Singgih Febiyanto dalam laporan Kaltim Post.

TKP pembantaian korban yang dipicu sengketa lahan. (facebook/Riyanti Alamsyah Viral Reaction)
TKP pembantaian korban yang dipicu sengketa lahan. (facebook/Riyanti Alamsyah Viral Reaction)

Peristiwa berdarah tersebut terjadi di kawasan Benangin, Kecamatan Teweh Timur, tepatnya di area sekitar jalan perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) PT Timber Dana.

Insiden ini mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka berat.

Dari hasil penyelidikan awal, kasus ini dipicu oleh sengketa lahan antara dua kelompok keluarga yang sama-sama mengklaim kepemilikan atas lokasi tersebut.

Perselisihan yang tak kunjung selesai jadi muasal aksi penyerangan di sebuah pondok.

“Korban dan pelaku memiliki hubungan keluarga. Konflik lahan ini sudah berlangsung sebelumnya,” jelasnya.

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi turut mengamankan barang bukti berupa senjata tajam jenis parang atau mandau.

Selain itu, dari keterangan saksi di lokasi kejadian, sempat terdengar suara letusan yang mengindikasikan penggunaan senjata api.

Luka pada tubuh korban juga ditemukan menyerupai bekas tembakan.

Atas perbuatannya, para pelaku akan dijerat dengan pasal pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam KUHP.

Polisi juga masih memburu kemungkinan pelaku lain yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut.

Peristiwa tragis ini sendiri terjadi pada Minggu (19/4) sore.

Satu keluarga yang berjumlah enam orang menjadi korban dalam serangan tersebut.

Lima di antaranya dinyatakan meninggal dunia di lokasi, sementara satu korban lainnya masih menjalani perawatan intensif di RSUD Muara Teweh.

Kepolisian memastikan proses penyidikan akan terus dikembangkan untuk mengungkap seluruh fakta serta pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini.