BERAU TERKINI – Program bioflok diusulkan menjadi salah satu program di Kopdes Merah Putih.

Dinas Perikanan (Diskan) Berau akan meluncurkan bioflok tematik bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Bioflok merupakan sebuah teknologi budidaya ikan atau udang intensif yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme seperti bakteri pengurai, alga, protozoa untuk mengubah limbah budidaya kotoran dan sisa pakan menjadi gumpalan nutrisi (flok) yang dapat dikonsumsi lagi oleh ikan.

Bioflok tematik nantinya akan menyasar dua kampung awal, yaitu Kampung Labanan Jaya dan Labanan Makmur di Kecamatan Teluk Bayur.

Kabid Budidaya Diskan Berau, Budiono, menjelaskan bioflok tematik merupakan program unggulan dari KKP untuk mendukung Kopdes Merah Putih untuk ketahanan pangan.

“Jadi ini masih dalam tahap verifikasi dan validasi. Kita coba usulkan dua kampung, yaitu Labanan Makmur sama Jaya,” ungkapnya kepada Berauterkini.co.id

Sambil menunggu verifikasi dua kampung tersebut, diusulkan lagi dua kampung lain, yaitu Kampung Melati Jaya di Kecamatan Gunung Tabur dan Kampung Sukan di Kecamatan Sambaliung.

Pihak KKP mengharapkan usulan dilakukan sebanyak-banyaknya, karena program ini akan berjalan hingga 2029 nanti.

“Artinya potensinya sangat besar. Yang kedua, program ini tidak mengambil dana dari dana desa, jadi betul-betul hibah dari KKP,” jelasnya.

Ilustrasi bioflok (ist)
Ilustrasi bioflok (ist)

Menurutnya, program bioflok merupakan peluang potensi untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan dari Kopdes Merah Putih.

Diskan Berau sendiri menargetkan 6 kampung masing-masing mewakili wilayah utara, tengah, dan selatan di Berau untuk memulai program bioflok.

Di mana untuk wilayah tengah Kampung Labanan Jaya dan Labanan Makmur.

Wilayah selatan mencakup Sukan dan Melati Jaya dan utara baru akan dilakukan percobaan untuk Kecamatan Tanjung Batu.

“Yang utaranya nanti kita coba, apakah Tanjung Batu apa bisa gitu. Kita coba 5 kampung Kasai, Semanting, Pegat Batumbuk, Tanjung Batu mana yang punya peluang, karena kita terbatas dengan lahan,” ujarnya.

Pihaknya menjelaskan jika program sudah berjalan, maka komoditas lain selain nilai dan lele diperbolehkan untuk dibudidaya.

Namun hal itu akan bergantung pada Kopdes di tiap kampung yang mengelola. Tiap Kopdes nantinya bisa membudidaya ikan patin, ikan emas, atau jenis ikan laut lain.

“Nanti setelah itu satu siklus, terserah nanti KDMP mau programkan sesuai dengan kebutuhan tidak masalah. Yang penting satu siklusnya tetap nila lele sesuai dengan tematik bantuan,” tutupnya.