BERAU TERKINI – Ancaman lubang bekas tambang di Kabupaten Berau kian memprihatinkan.
Tak hanya mengintai wilayah perkotaan, perusakan lingkungan ini kini mulai meluas hingga ke Kecamatan Tanjung Batu.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengkhawatirkan masa depan daerahnya jika ceruk-ceruk raksasa tersebut dibiarkan tanpa reklamasi.
“Sebentar lagi dia akan merembet ke Tanjung Batu. Kalau ini terus kita lakukan, Insya Allah Berau akan hilang,” ungkapnya.
Gamalis menilai, tanpa penanganan terpadu dan kerja sama lintas sektor, Berau berisiko tenggelam dalam kepungan lubang tambang.
Sayangnya, Pemkab Berau tak berkutik karena benturan regulasi.

Kewenangan pengawasan hingga revegetasi kini sepenuhnya dipegang pemerintah pusat.
“Kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kita Kabupaten Berau ini seperti anak yang sedang menunggu nasib,” ujarnya.
Tekanan makin terasa setelah Dana Bagi Hasil (DBH) sektor pertambangan dipangkas.
Untuk menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pemkab Berau kini mengandalkan sektor pariwisata dan UMKM.
“Hari ini kita sedang berupaya bagaimana meningkatkan UMKM, meningkatkan pariwisata. Itu saja kemampuan kita untuk meningkatkan PAD,” tegas Gamalis.
Ia menegaskan, dampak ekonomi dan kelestarian lingkungan harus berjalan seimbang.
Perusahaan tambang diharapkan berkomitmen menjalankan solusi reklamasi agar pembangunan ekonomi tidak mengorbankan masa depan Berau.
“Antara ekonomi dan stabilitas itu sesuatu yang tidak boleh bertentangan yang harus dijalankan seiring sejalan,” pungkasnya. (*)
