BERAU TERKINI – Jari-jari para pengrajin di Kampung Sei Bebanir Bangun, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, kembali bergerak di antara helaian bahan anyaman.
Enam hari, mulai 31 Agustus hingga 5 September 2026, mereka mengasah kembali keterampilan sekaligus belajar mengubah anyaman menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Bukan sekadar menganyam seperti biasanya. Dalam pendampingan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada berbagai produk turunan, mulai dari tas, dompet, sandal, sampul buku hingga beragam bentuk kerajinan lainnya.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Kerajinan Anyaman yang digelar pada Desember 2025.

Program tersebut juga menjadi bagian dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PT Pamapersada Nusantara Site BRCG dan Dekranasda Berau.
Kolaborasi itu menjadi salah satu upaya mendorong pengembangan kerajinan masyarakat, khususnya di Kampung Sei Bebanir Bangun yang berada di wilayah lingkar tambang PAMA BRCG.
Pengembangan tidak berhenti pada kemampuan menganyam. Para pengrajin juga didorong memahami bagaimana sebuah produk dibuat agar memiliki bentuk yang menarik, fungsi yang jelas, sekaligus peluang untuk dikembangkan menjadi sumber nilai ekonomi.
Sebanyak 13 masyarakat mengikuti pendampingan tersebut. Mayoritas peserta merupakan perempuan, yakni 12 orang, sementara satu peserta lainnya laki-laki. Menariknya, enam peserta merupakan pengrajin lanjut usia.
Namun, usia tak menjadi alasan untuk berhenti belajar. Salah satu peserta, Hendrawati, mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama mengikuti pendampingan.
“Kami mendapat banyak ilmu dari Pak Danang, terutama dalam berpikir lebih kreatif dan mengelola produk anyaman,” katanya.
Ternyata dari satu bahan bisa dikembangkan menjadi berbagai macam produk, seperti tas, dompet, sampai sampul buku.
“Kami jadi lebih tahu bagaimana membuat produk yang lebih menarik dan punya nilai jual,” ujarnya.
Semangat serupa ditunjukkan Hajrah, salah satu pengrajin lanjut usia yang mengikuti kegiatan tersebut.
“Kami tetap semangat untuk belajar dan membuat produk anyaman. Walaupun sudah lanjut usia, kami ingin terus berusaha dan menghasilkan karya yang lebih baik,” tuturnya.

Pendampingan menghadirkan Danang Sudrajat dari Kampoeng Anyaman Kebumen sebagai instruktur.
Peserta tidak hanya memperkuat teknik dasar menganyam, tetapi juga belajar mengembangkan bahan yang sama menjadi produk dengan bentuk dan fungsi berbeda.
Dalam prosesnya, para pengrajin diajak melihat anyaman bukan hanya sebagai kerajinan, melainkan sebagai produk yang dapat terus dikembangkan.
Kepala Kampung Sei Bebanir Bangun, Muchlistriyadi, menilai kegiatan tersebut menjadi langkah positif untuk memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.
Dirinya juga mengapresiasi dan mendukung langkah PAMA dalam memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat sekitar.
“Masyarakat di sini memiliki keterampilan dan pendampingan seperti ini membantu mereka mengembangkan keterampilan tersebut menjadi sesuatu yang lebih produktif,” ujarnya.
Pelaksanaan program ini melibatkan sejumlah pihak. Pemerintah Kampung Sei Bebanir Bangun berperan dalam pengorganisasian masyarakat serta menyediakan tempat pelatihan. Dekranasda Kabupaten Berau turut melakukan monitoring.
Sementara, PAMA bersama LPB PAMA Bakat Batiwakkal memfasilitasi pelatihan, penguatan kapasitas, instruktur, alat dan bahan, termasuk dua unit mesin jahit untuk mendukung proses produksi.
CSR Officer PAMA, Adzkia Yeza, mengatakan, pengembangan kerajinan masyarakat membutuhkan proses yang dilakukan secara bertahap.
“Bagi kami, pendampingan bukan hanya soal menambah jenis produk, tetapi membangun proses produksi yang lebih siap dan konsisten. Setelah itu, pengembangan pasar menjadi langkah berikutnya,” terangnya.
“Jadi prosesnya memang bertahap, mengikuti kesiapan pengrajin dan kapasitas yang sedang dibangun,” sambungnya.

Pendampingan tahap pertama ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang akan kembali dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun.
Tahap berikutnya akan diarahkan pada standardisasi langkah kerja, peningkatan kualitas dan standardisasi produk, hingga pengembangan desain yang lebih variatif.
Seiring dengan penguatan kapasitas produksi, akses pasar juga mulai menjadi perhatian. Pemetaan calon pasar, penjajakan peluang kemitraan hingga pengenalan produk kepada pasar yang sesuai akan dilakukan agar hasil kerajinan masyarakat tidak berhenti sebagai produk pelatihan.
Harapannya, anyaman yang selama ini tumbuh sebagai keterampilan masyarakat dapat berkembang menjadi produk yang memiliki pasar dan nilai ekonomi lebih luas.
Bagi para pengrajin, proses tersebut bukan sekadar tentang membuat tas, dompet atau sampul buku.
Lebih dari itu, pendampingan menjadi ruang untuk terus belajar, mencoba hal baru dan melihat bahwa keterampilan yang telah dimiliki dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai. (*/Adv)
