BERAU TERKINI – Berikut ini sejumlah dampak dari Karhutla yang melanda Berau, Kaltim.

Titik panas atau hotspot di Berau terus bertambah dalam beberapa pekan terakhir.

Data BMKG Berau menunjukkan jumlah titik panas mencapai 426 titik pada Rabu (18/8) lalu.

Kejadian kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla juga terus bertambah dalam beberapa hari terakhir.

Pemkab Berau berupaya memadamkan api Karhutla dan mencegah meluasnya titik api.

Berbagai langkah dilakukan mulai dari melibatkan perusahaan untuk memadamkan api hingga menyiapkan skema water bombing.

Di sisi lain, Karhutla di Berau juga mulai berdampak bagi warga. Kondisi kabut asap mulai mengancam kesehatan warga karena menurunnnya kualitas udara.

Tak hanya warga Berau, habitat orangutan di Berau juga terdampak dengan karhutla.

Habitat Orangutan Terancam

Situasi kemarau panjang yang terjadi di Berau mulai berdampak terhadap kondisi habitat dan ketersediaan pakan alami orangutan.

Minimnya buah, bunga, dan dedaunan di hutan dikhawatirkan mendorong orangutan keluar dari habitatnya untuk mencari sumber makanan.

Manajer Komunikasi Centre for Orangutan Protection (COP), Wahyuni, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian, terlebih saat musim kering juga disertai dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Pakan alami menjadi sangat minim, buah-buahan hutan tidak ada, bunga bahkan dedaunan juga mengering,” kata Wahyuni.

Menurutnya, orangutan liar memiliki kemampuan beradaptasi dan insting yang cukup baik. Namun, apabila kekeringan berlangsung dalam waktu panjang, satwa tersebut berpotensi keluar dari kawasan hutan untuk mencari makanan.

Kondisi itu dinilai meningkatkan risiko orangutan masuk ke area yang sedang dibuka untuk ladang, termasuk kawasan yang menggunakan metode pembakaran lahan.

“Jika kekeringan ini terus berlanjut, akan semakin mendesak orangutan keluar hutan dan mendekati lahan yang akan dibuka sebagai ladang yang saat ini sedang masa bakar lahan. Mungkin saja orangutan akan terjebak,” ujarnya.

Pelepasliaran orangutan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur.
Pelepasliaran orangutan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur.

Ancaman karhutla juga terjadi di sekitar kawasan pusat rehabilitasi orangutan BORA yang berada di KHDTK Labanan.

Pada 8 hingga 16 Agustus 2026, tim COP bersama Manggala Agni dan BP2SDM melakukan pemadaman kebakaran di kawasan Hutan Labanan.

Wahyuni menyebut, titik api berada sekitar 1,3 kilometer dari kandang orangutan bernama Ambon yang masih menjalani proses rehabilitasi.

“Kami beruntung, angin tidak berhembus menuju pusat rehabilitasi. Kalau menuju ke sana tentu bisa memperparah kondisi,” katanya.

Proses pemadaman, lanjut dia, juga menghadapi sejumlah kendala. Untuk menangani kebakaran seluas sekitar satu hektare, tim membutuhkan waktu hingga lima jam karena akses menuju lokasi dan keterbatasan peralatan serta personel.

Pada saat yang sama, sebagian personel juga dikerahkan untuk menangani kebakaran di wilayah Tumbit Melayu.

Selain mengancam orangutan liar, kekeringan turut memengaruhi kondisi habitat sekolah hutan tempat Ambon menjalani rehabilitasi.

Ketersediaan pakan alami di kawasan tersebut menurun, sementara vegetasi mulai mengering.

“Lokasi sekolah hutan menjadi sangat kering, minim buah-buahan, bunga hingga dedaunan yang dimakan pun menjadi layu serta kering,” jelas Wahyuni.

Menurutnya, kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dapat memperbesar risiko terhadap orangutan.

Satwa yang tidak sempat menyelamatkan diri berpotensi mati, sedangkan orangutan yang berhasil bertahan dapat mengalami luka bakar maupun gangguan kesehatan akibat paparan asap.

Untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran kembali mendekati pusat rehabilitasi, COP tetap melakukan patroli meski titik api telah berhasil dipadamkan.

COP juga menyiapkan langkah evakuasi terhadap Ambon apabila api kembali mendekat atau kualitas udara di kawasan rehabilitasi menurun.

“Seperti mempersiapkan kandang angkut, medis dan personel untuk evakuasi,” katanya.

Warga Keluhkan Kualitas Udara

Imbas karhutla di Berau membuat kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Berau.

Kondisi tersebut dirasakan warga sejak beberapa hari terakhir, terutama pada pagi hingga siang hari, dengan udara yang tampak berkabut dan tercium bau asap.

Sejumlah warga mengaku kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Selain membuat jarak pandang terasa berkurang, sebagian warga juga memilih mengurangi aktivitas di luar rumah karena khawatir dengan kualitas udara.

Warga Tanjung Redeb, Irma, mengatakan kabut asap sudah terlihat cukup pekat apalagi pada pagi hari. Ia menyebut bau asap juga cukup terasa ketika berada di luar ruangan.

“Pagi biasanya sudah kelihatan berkabut. Kalau keluar rumah antar anak sekolah juga terasa bau asap,” ujarnya.

Kabut asap efek karhutla mulai menyelimuti wilayah perkotaan di Kabupaten Berau. (AIDIL/BT)
Kabut asap efek karhutla mulai menyelimuti wilayah perkotaan di Kabupaten Berau. (AIDIL/BT)

Kondisi itu membuat dirimya mulai waspada, khususnya bagi anak-anak yang beraktivitas di luar rumah.

“Maunya sih dikurangi aktivitas diluar tapi kan harus mengantar anak sekolah,” katanya.

Warga lainnya, Izza, mengatakan kabut asap juga membuat suasana di beberapa jalan terlihat berbeda.

“Kalau pagi memang seperti kabut. Apalagi dari Tepian Segah itu kalau lihat kesebrang jelas banget kabutnya,” ungkapnya.

Festival Manuntung Jukut Dibatalkan

Karhutla yang terjadi di Berau juga berdampak pada aktivitas masyarakat. Rencana Festival Manuntung Jukut sebagai bagian dari HUT Berau pun dibatalkan.

Pemkab Berau memilih membatalkan agenda pesta rakyat Manutung Jukut.

Pembatalan tersebut disampaikan Bupati Berau Sri Juniarsih, setelah memimpin rapat koordinasi penanganan Karhutla, bersama OPD serta lembaga lintas sektor pada Selasa (19/8/2026) lalu.

Sri Juniarsih mengatakan, keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan kondisi cuaca yang saat ini cukup panas dan kering, ditambah pengaruh fenomena El Nino.

Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko terjadinya kebakaran apabila kegiatan yang melibatkan pembakaran tetap dilaksanakan.

Pesta Bakar Ikan Berau, Manutung Jukut.
Pesta Bakar Ikan Berau, Manutung Jukut.

“Acara Manutung Jukut dibatalkan. Sekarang sudah panas, ditambah api pembakaran akan tambah panas. Saya tidak ingin karena faktor ketidaksengajaan, terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Menurutnya, keselamatan dan pencegahan karhutla menjadi pertimbangan utama.

Pemkab Berau, kata dia, tidak ingin mengambil risiko di tengah kondisi yang membutuhkan kewaspadaan tinggi terhadap potensi kebakaran. “Lebih baik dibatalkan,” tegasnya.

Meski demikian, Sri Juniarsih memastikan pembatalan Manutung Jukut tidak berarti rangkaian perayaan hari jadi berhenti. Pemkab Berau akan menyiapkan kegiatan pengganti yang lebih aman, dan tidak berpotensi memicu kebakaran.

Sementara itu, ikan yang sebelumnya telah disiapkan untuk kegiatan Manutung Jukut tetap akan dimanfaatkan dan disalurkan kepada masyarakat di seluruh kecamatan.

“Tetap akan disalurkan ke masyarakat,” katanya.

Pasar Ikan TPI Sambaliyng
Suasana pasar ikan di TPI Sambaliung. (Ika/BT)

Sementara itu, Kadis Perikanan Berau Abdul Majid mengatakan dengan dibatalkannya agenda tersebut, maka pola pelaksanaan akan dialihkan ke gerakan pasar ikan murah yang dipadukan dengan gerakan pangan murah.

Pihaknya akan melibatkan Dinas Pangan dalam memenuhi kebutuhan pangan warga mulai dari beras, telur, gula, dan bahan pokok lainnya untuk gerakan pangan murah.

“Nanti kami juga mencari desa yang rentan pangan, itu perlu segera kita dorong untuk kebutuhan,” ungkap Abdul Majid.

Gerakan pasar ikan murah ini nantinya akan berkeliling hingga daerah pedalaman, sehingga tidak hanya dilakukan di TPI Sambaliung saja karena selama ini, Sambaliung menjadi tempat andalan untuk mengadakan pasar ikan murah.

“Kita akan lakukan nanti di daerah pedalaman. Kita cari umpamanya di kecamatan biar nanti kita koordinasi dengan camat,” katanya.

Ia menjelaskan alasan TPI Sambaliung untuk lokasi kegiatan pasar ikan murah karena memiliki fasilitas yang memadai yakni di TPI Sambaliung.

Persediaan ikan nantinya akan mencapai 12-17 ton yang berasal dari partisipasi masyarakat serta perusahaan.

Menurutnya, menggaungkan program gemar makan ikan ini juga sambil mendukung pariwisata yang kaya akan laut sebagai ikon andalan warga Berau.

Selain itu kegiatan Gemar Makan Ikan sebagai salah satu cara menikmati dan merayakan HUT Berau, serta memasyarakatkan gemar makan ikan

“Yang paling penting juga yaitu menjadi ikon untuk kunjungan wisatawan dengan adanya kegiatan ini, karena dalam wisata kan pasti ada event-event yang dilakukan. Apa sih yang bisa menarik orang datang ke Berau,” jelasnya.

“Kemudian menuju ke destinasi-destinasi yang ada di laut, atau sepulangnya dari laut menikmati event yang ada di Berau,” tambahnya.