BERAU TERKINI – Orang tua murid mendukung kebijakan BDR saat kabut asap melanda Berau.
Kondisi kabut asap di Berau berdampak pada aktivitas belajar mengajar.
Pihak Disdik Berau pun memutuskan kebijakan belajar dari rumah atau BDR kembali diterapkan. Diketahui kebijakan BDR sudah bergulir sejak kabut asap karhutla melanda Berau pada Agustus lalu.
Orang tua murid di Berau pun mendukung kebijakan yang diambil oleh Disdik Berau itu. Faktor kesehatan anak menjadi alasan orang tua mendukung kebijakan BDR.
Namun, di sisi lain, orang tua juga mengakui tantangan saat BDR, terlebih saat harus membagi waktu antara bekerja dan mendampingi anak belajar.
Salah satu orang tua murid, Andini mengatakan, penerapan BDR membuat orang tua harus menyesuaikan kembali jadwal keluarga.
“Kalau untuk kebijakannya saya rasa sudah tepat, karena anak-anak memang rawan terkena dampak asap dan ISPA,” ujar Andini.
“Agak kurang suka karena harus mengatur ulang jadwal anak, sementara emaknya juga bekerja. Terus harus lewat Zoom, anak juga belum familiar sama Zoom,” katanya.
Orang tua murid lainnya, Isnaniah mengatakan, orang tua tetap menginginkan anak mendapatkan pembelajaran yang maksimal meskipun dilakukan dari rumah.
Menurutnya, keberadaan guru tetap penting karena guru memiliki pengalaman dalam mengajar dan memahami bagaimana menyampaikan materi kepada anak sesuai dengan usianya.
“Orang tua pasti ingin anaknya diajari oleh guru yang punya pengalaman mengajar, apalagi orang tua yang sibuk bekerja,” tuturnya.
Meski begitu, Isnaniah memahami bahwa pembelajaran tatap muka tidak dapat dipaksakan ketika kondisi udara masih berisiko bagi kesehatan anak.
Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian adalah adanya langkah penanganan yang cepat agar kondisi kabut asap tidak berlangsung berkepanjangan dan BDR tidak menjadi solusi yang terus diterapkan.
“Tidak bisa juga memaksakan anak untuk sekolah kalau memang kondisinya berisiko,” katanya.
“Tapi pengambil kebijakan harus cepat menangani kondisi ini. Jangan sampai solusinya BDR terus, harus ada langkah lain supaya kondisi segera membaik dan anak-anak bisa kembali belajar normal,” ujarnya.

Curhat Murid saat BDR
Jika orang tua murid curhat harus mengimbangi waktu bekerja dan mendampingi anak belajar, maka murid sekolah juga punya pendapat soal BDR.
Beberapa murid sekolah mengaku lebih senang belajar di ruang kelas sekolah dibanding belajar di rumah.
Salah satu murid sekolah, Amanda, mengatakan baik BDR ataupun tatap muka sama-sama dihadapkan dengan tugas yang menumpuk.
Namun ia tetap memilih untuk belajar di sekolah lantaran kendala yang tidak disenangi ketika BDR yaitu saat jaringan internet tiba-tiba buruk di tengah pembelajaran.
“Sebenarnya 50 persen BDR 50 persen tatap muka, tapi lebih ke tatap muka, kalau BDR itu ribet ketika jaringannya jelek,” ujarnya pada Kamis (8/10/2026).
Senada dengan Amanda, murid lain, Shabrina, juga memilih pembelajaran tatap muka di sekolah.
Ia menilai hal tersebut lebih efektif saat pembelajaran dan ketika guru memberikan materi secara langsung, murid akan lebih mudah paham.
Jika ada tugas praktik pun akan dapat terlaksana dengan baik jika bertemu langsung dan ketika pembelajaran tatap muka, tugas yang dihadapi tidak begitu banyak.
“Kalau tatap muka tugasnya tidak terlalu banyak, sedangkan saat BDR tugasnya banyak dan deadlinenya mepet semua serta Zoom sampai sore sesuai jam pelajaran saat tatap muka,” ujarnya.
