BERAU TERKINI – Upaya menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Berau tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. 

Edukasi dan pencegahan sejak dini juga menjadi langkah penting untuk melindungi kelompok rentan, terutama anak-anak.

Polres Berau melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) terus memperkuat upaya tersebut. 

Salah satunya dengan menggencarkan sosialisasi ke sekolah-sekolah guna meningkatkan pemahaman pelajar mengenai berbagai bentuk kekerasan serta cara mendapatkan perlindungan.

Kanit PPA Polres Berau, Iptu Siswanto, mengatakan, penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi perhatian serius kepolisian.

Setiap laporan yang masuk akan ditangani, sementara langkah pencegahan terus diperkuat agar kasus serupa tidak terus berulang.

“Sampai saat ini, itu masih jadi perhatian serius kami. Sosialisasi ke sekolah-sekolah juga akan terus kami gencarkan sebagai salah satu upaya pencegahan,” ujarnya, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, lingkungan sekolah menjadi salah satu tempat strategis untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak. 

Melalui sosialisasi, pelajar diharapkan mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan, baik secara fisik maupun verbal.

Tidak hanya itu, mereka juga perlu memahami hak untuk mendapatkan perlindungan dan merasa aman, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

“Selain itu, kami juga berikan edukasi agar anak-anak memahami hak mereka untuk mendapatkan perlindungan dan merasa aman, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah,” jelasnya.

Siswanto menilai, salah satu tantangan dalam penanganan kasus kekerasan adalah masih adanya korban yang takut mengungkapkan kejadian yang dialami. 

“Seperti malu, takut, hingga kekhawatiran terhadap reaksi lingkungan sekitar, itu yang membuat korban memilih diam,” jelasnya.

Padahal, keterlambatan melaporkan tindakan kekerasan dapat berdampak pada proses penanganan dan perlindungan terhadap korban.

Karena itu, peran orang tua, guru, serta lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk menciptakan ruang aman.

“Dukungan orang-orang terdekat diharapkan mampu membuat korban lebih berani bercerita dan mencari pertolongan. Bukan malah sebaliknya,” pungkasnya. (*)