BERAU TERKINI – Viral di media sosial terkait penangkapan orangutan oleh sejumlah karyawan PT Global Primatama Mandiri (GPM) beberapa hari lalu akhirnya mendapat tanggapan dari pihak perusahaan.
Manajemen PT GPM menyatakan penyesalan atas insiden tersebut dan menegaskan tindakan itu tidak mencerminkan kebijakan perusahaan.
Estate Manager PT GPM, Veri Rama Purba, mengatakan, perusahaan berkomitmen terhadap perlindungan satwa liar, serta pengelolaan lingkungan berkelanjutan di wilayah operasionalnya.
“Kami sangat menyesalkan insiden penanganan orangutan sebagaimana yang telah beredar di media sosial. Tindakan tersebut tidak mencerminkan kebijakan maupun komitmen PT GPM terhadap perlindungan satwa liar dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan, area operasional PT GPM berbatasan langsung dengan kawasan yang masih memiliki vegetasi alami dan keanekaragaman hayati tinggi.
Kondisi itu membuat kemunculan satwa liar, termasuk orangutan, masih kerap terjadi di sekitar area kerja perusahaan.
Menurut Veri, perusahaan selama ini telah menerapkan kebijakan pengelolaan lingkungan sesuai ketentuan yang berlaku.
Termasuk melakukan identifikasi dan pengelolaan area bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV).
“Area konservasi tersebut dijaga dan dikelola sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk melestarikan lingkungan dan mendukung habitat satwa liar di sekitar wilayah operasional PT GPM,” katanya.
Terkait upaya pencegahan konflik antara pekerja dan satwa liar, PT GPM mengaku rutin memberikan edukasi kepada seluruh karyawan mengenai prosedur penanganan satwa liar, serta melalui sosialisasi saat apel pagi.
Selain itu, perusahaan juga menetapkan area konservasi sebagai buffer zone yang berbatasan dengan kawasan hutan lindung.
Penetapan dan pemetaan kawasan itu dilakukan bersama pihak independen yang memiliki kompetensi di bidang lingkungan dan konservasi.
Veri menambahkan, PT GPM juga telah membentuk Satuan Tugas Pengendalian Satwa Liar untuk menangani kemunculan satwa di area operasional perusahaan.
“Satgas tersebut telah mendapatkan pelatihan dan pembekalan dari pihak berwenang dan kompeten, termasuk dari Borneo Orangutan Survival Foundation dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam,” jelasnya.
Pasca viralnya video tersebut, perusahaan mengaku akan melakukan evaluasi internal dan memperkuat pembinaan kepada seluruh pekerja.
Sehingga, penanganan satwa liar dilakukan secara hati-hati dan sesuai prosedur konservasi.
“Hal ini dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di kemudian hari,” pungkasnya. (*)
