BERAU TERKINI — Ancaman nyata musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kalimantan Timur memicu krisis hidrologi serius di dalam ekosistem hutan. 

Kondisi ini berdampak langsung pada kelangsungan hidup satwa liar yang kesulitan mendapatkan sumber air bersih akibat kekeringan ekstrem.

Kerentanan ekosistem tersebut terlihat jelas dari lonjakan kasus penyelamatan satwa di lapangan. 

Berdasarkan data Conservation Action Network (CAN) Borneo, sejak Juli hingga saat ini tercatat ada sebanyak 13 individu orangutan yang terpaksa diselamatkan akibat terdesak dari habitatnya. 

Kasus evakuasi tersebut meliputi penyelamatan seekor orangutan jantan di Muara Bengkal yang berhasil dilepasliarkan, penanganan individu orangutan dengan malnutrisi berat yang dilarikan ke Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam, evakuasi pasangan induk dan anak yang kini turut dirawat di PRS Long Sam, hingga beberapa individu lainnya yang langsung menjalani translokasi.

Pembuatan kubangan atau sumur air buatan di dalam kawasan hutan yang diinisiasi BKSDA Kaltim.
Pembuatan kubangan atau sumur air buatan di dalam kawasan hutan yang diinisiasi BKSDA Kaltim.

Sebagian besar dari individu orangutan yang dievakuasi tersebut dilaporkan mengalami kondisi dehidrasi berat. 

Minimnya ketersediaan sumber air bersih serta hilangnya kandungan air pada vegetasi pakan di alam membuat satwa-satwa ini rentan tumbang di tengah upaya mereka bertahan hidup.

Menghadapi situasi darurat ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur menginisiasi program pembuatan kubangan atau sumur air buatan di dalam kawasan hutan. 

Program ini dijalankan dengan menggandeng pemegang izin konsesi yang memiliki kawasan High Conservation Value (HCV). 

Sebagai tahap uji coba awal, program ini telah melibatkan satu entitas bisnis di lapangan.

Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, menjelaskan, dalam kondisi normal atau tanpa fenomena El Nino, kebutuhan cairan satwa biasanya masih dapat terpenuhi secara alami dari pakan, seperti pucuk-pucuk daun yang mengandung air. 

Namun, pada musim kemarau ekstrem seperti saat ini, sumber-sumber air di alam menyusut drastis dan vegetasi tidak lagi mencukupi kebutuhan hidrasi satwa.

“Oleh karena itu, antisipasi-antisipasi harus segera dilakukan oleh kita. Salah satunya pembuatan kubangan air yang di-refill oleh pengelola kawasan untuk menyediakan air bagi mereka,” ungkap Ari.

Pembuatan kubangan darurat ini dirancang secara cermat dengan memanfaatkan ceruk tanah alami atau aliran sungai kecil yang mengering pada jalur perlintasan satwa. 

Ukuran kubangan dibuat proporsional, berkisar 1×1 meter dengan kedalaman antara setengah hingga satu meter agar mudah diakses namun tetap aman.

Guna melindungi satwa dari potensi ancaman perburuan liar, lokasi kubangan sengaja disembunyikan dan tidak diletakkan di tempat terbuka. 

Pihaknya juga memasang kamera jebak (camera trap) di sekitar lokasi untuk memantau tingkat keberhasilan dan efektivitas pemanfaatan sumur buatan tersebut. 

Saat ini, sebanyak empat kubangan telah dibangun sebagai proyek percontohan.

“Saat ini baru kita bangun empat kubangan dulu, namun akan kita perluas. Memang kita juga sudah mengirimkan surat kepada entitas-entitas yang mengelola kawasan, baik tambang, sawit, maupun kehutanan, untuk membuat kubangan-kubangan air buatan yang disediakan untuk satwa. Kami sudah membuat surat edaran itu juga ke beberapa entitas,” tambahnya.

Pembuatan kubangan atau sumur air buatan di dalam kawasan hutan yang diinisiasi BKSDA Kaltim.
Pembuatan kubangan atau sumur air buatan di dalam kawasan hutan yang diinisiasi BKSDA Kaltim.

Founder CAN Borneo, Paulinus Kristanto, menyatakan, pembangunan sumur darurat ini sangat krusial mengingat kondisi hutan yang terfragmentasi membuat satwa harus menempuh perjalanan berat melintasi area terbuka yang kering saat bermigrasi.

“CAN sangat mengapresiasi langkah BKSDA Kaltim untuk mulai membangun sumur-sumur atau kubangan air di area perlintasan satwa. Hal ini sangat penting karena dengan kondisi kemarau panjang dan hutan yang terfragmentasi, sumber air sangat kurang,” ujar Paulinus. 

Ia menjelaskan, berbekal pengalamannya, beberapa orangutan dan satwa yang ditemukan mengalami dehidrasi karena tidak ada sumber air dan pohon-pohon juga tidak menghasilkan cukup banyak air di kulitnya.

Sehingga satwa mudah mengalami dehidrasi, apalagi berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain melewati area-area yang memang tidak berhutan. 

“Nah, dengan adanya sumur-sumur ini, akan sangat membantu satwa untuk terus berpindah dan untuk terus bermigrasi selama masa kemarau panjang ini,” pungkasnya. (*)