BERAU TERKINI — Maratua Jazz and Dive Fiesta (MJDF) 2026 terpaksa harus mengalami penundaan hingga waktu yang belum ditentukan.

Agenda yang semula dijadwalkan bergulir pada 8-11 Oktober 2026 di Pulau Maratua tersebut diputuskan untuk diundur menyusul masifnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Keputusan penundaan ini diambil setelah melalui serangkaian pertimbangan matang, menyerap masukan dari berbagai pihak, serta evaluasi terhadap faktor keselamatan, kenyamanan wisatawan, pelaku usaha, dan kesiapan teknis di lapangan.

Founder MJDF, Juhriansyah, mengungkapkan, penundaan ini diambil demi menghindarkan penyelenggaraan dari risiko buruk, berkaca dari pengalaman pahit pada pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya. 

Tercatat, MJDF pernah dipaksa berjalan di tengah kepungan kabut asap karhutla pada 2015 dan 2019.

“Penundaan MJDF 2026 juga merupakan hasil dari pengalaman panitia dalam menyelenggarakan event sebelumnya,” ungkap Juhriansyah kepada Berauterkini, Selasa (6/10/2026).

Pada dua penyelenggaraan terdahulu, panitia sempat mencoba untuk tetap mempertahankan jadwal kegiatan meskipun situasi lingkungan kurang mendukung. 

Kendati demikian, situasi yang dipaksakan tersebut justru menghadirkan berbagai dampak, mulai buruknya kualitas udara, terganggunya aksesibilitas, menurunnya tingkat kenyamanan peserta dan wisatawan, hingga berbagai hambatan teknis yang berada di luar kendali panitia.

Dari pengalaman tersebut, penyelenggara sepakat untuk tidak mengulangi kesalahan serupa dengan memaksakan agenda ketika kondisi ekologis belum sepenuhnya kondusif.

Hal itu upaya untuk memberikan pengalaman wisata yang aman dan berkesan bagi seluruh pihak yang terlibat.

“Kami belajar bahwa sebuah event seperti MJDF harus mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kesiapan destinasi. Karena itu, kali ini kami memilih untuk mengundur pelaksanaan event utama, tetapi tidak menghentikan semangat dan gerakan promosinya,” jelas pria yang akrab disapa Rian ini.

Mengenai kepastian jadwal pengganti, panitia masih merumuskannya bersama lintas pemangku kepentingan, termasuk pemerintah provinsi. 

Saat ini, panitia telah mengerucutkan dua opsi waktu pelaksanaan, yakni pada 12-15 November atau 3-6 Desember mendatang.

Kendati demikian, penetapan jadwal baru tersebut masih bersifat tentatif, mengingat panitia harus melakukan konfirmasi ulang kepada para pengisi acara dan musisi pengisi panggung terkait ketersediaan jadwal mereka.

“Pelaksanaannya kemungkinan di November, sekarang lagi dikoordinasikan dengan para pihak, ini masih tentatif ya,” katanya.

“Kita lagi pastikan talent pengisi acaranya, apakah yang rencananya tampil tanggal 8 Oktober ini masih ada jadwal untuk bulan November atau tidak,” tutupnya. (*)